Category Archives: Biz News

Minimarket PAPUAmart.com Diresmikan oleh Pembina KSU Baliem Arabica

Didahului dengan Khotbah dari perintis dan tokoh Gereja Injili di Indonesia (GIDI) di pesisir Tanah Papua, Pdt. Nick Suebu, dan digunting oleh pendiri dan tokoh GIDI sekaligus pembina Kopi Papua di KSU Baliem Arabica, Pdt. Ki’marek Karoba Tawy, pada tanggal 3 September 2015, bertempat di depan minimarket PAPUAmart.com di Jalan Raya Sentani, Hawai No. 05, Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, secara resmi telah dibuka minimarket milik orang Papua yang pertama, dengan sistem pelayanan 24 jam pertama di Tanah Papua, dihadiri oleh indiviidu pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat serta Presiden Gereja Injili di Indonesia.

Khotbah peresmian yang dibawakan oleh Pdt. Nick Suebu diambil dari Markus 6:37

37. Tetapi jawab-Nya, “Kamui harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya, “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?”

38. Tetapi Ia berkata keapda mereka “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksakannya mereka berkata, “Lima roti dan dua ikan”

dan kita semua tahu kisah ini, yaitu bahwa setelah orang semua itu disuruh duduk, Yesus menengadah ke langit seraya mengarahkan berkat ke langit dan mengucap syukur, dengan tangah terangkat ke atas, lalu dibawanya turun, dan terjadilah mujizat.

Limaribu orang diberi makan sampai kenyang. Bahkan sampai ada kelebihan makakan yang dikumpulkan berjumlah 12 bakul.

Yesus memerintahkan sekaligus menantang murid-Nya untuk memberi limaribu orang yang berkumpul untuk mereka beri makan. Sesuatu yang secara akal sehat tidak dapat diterima. Tetapi karena ini perintah dari Yesus, murid-Nya harus melakukannya. Ini juga tantangan Yesus kepada murid-murid-Nya untuk mencari jalan bagaimana caranya memberi orang-orang itu makan, tanpa alasan apapun.

Di era Otsus di Tanah Papua, kita sebagai orang beriman, terutama anggota Gereja Injili di Indonesia dan orang Papua harus bangkit, supaya kita mandiri dan sejahtera. Kita diperintahkan untuk memberi makan kepada mereka yang lapar dan haus, bukan hanya makanan rohani tetapi juga makanan dan minuman jasmani sebagawi wujud kasih Kristus kepada umat manusia, sebagaimana ditunjukkan Yesus dalam kisah ini.

Yesus memberi perintah para murid-Nya harus memberi makan 5 ribu orang yang berkumpul, dan kini Ia memerintahkan kita Anggota GIDI dan anggota Koperasi, Anggota Gereja GKI, Kemah Injil, Baptis, Pentakosta, gereja dan demonimasi apa saja yang ada di Tanah Papua, untuk bangkit dan memberi makan kepada manusia yang ada di Tanah Papua, mulai dari Sorong sampai Samarai, tanpa membeda-bedakan agama, ras, suku, pandangan politik, dan denominasi gereja.

Kini anggota Koperasi ditantang untuk putar-otak dan berpikir bagaimana caranya memberi makan kepada sekian juta orang yang ada di pulau ini, di Tanah ini sehingga tidak ada yang kelaparan, tidak ada yang mati kelaparan, tidak ada yang melarat dan menderita, tetapi semuanya bangkit, mandiri dan sejahtera.

Perintah sekaligus tantangan yang langsung disampaikan dari mulut Yesus yang dicatat dalam Alkitab ini sekarang bersuara, memberikan perintah sekaligus tantangan kepada kita, untuk memberi makan kepada pemerintah, kepada gereja, kepada umat manusia sekalian di manapun mereka berada.

 

Musim Panen Kopi Papua 2015 telah Dimulai sejak Bulan Juli

Musim Panen Kopi Papua tahun 2015 telah dimulai sejak awal Juli 2015, dan kini memasuki proses pengiriman kepada para langganan yang selama ini telah menjalin hubungan dengan KSU Baliem Arabica.

Pengiriman ke pelanggan utama, PT Freeport Indonesia telah mengalami penundaan sebanyak tiga kali, tetapi telah diputuskan bahwa pengiriman akan tetap dilakukan setelah 17 Agustus 2015. Sementara pengiriman ke pelanggan di pulau Jawa berjalan dengan lancar, malah lebih lancar. Kepercayaan pelanggan terhadap produsen dan eksportir tunggal Kopi Papua, KSU Baliem Arabica telah tertanam.

Dengan pembenahan menejemen bisnis kopi Papua, yaitu memisahkan antara Gudang produksi Baliem Blue Coffee di Sentani dengan Koperasi sebagai organisasi induk, dan pendirian minimarket PAPUAmart.com telah memberikan keuntungan bagi Koperasi untuk meningkatkan kinerja dan keuntungan usaha.

Ada pelanggan yang telah memutuskan untuk tidak berlangganan lagi, tetapi adalah kebijakan KSU Baliem Arabica untuk selanjutnya akan mengurangi dan akhirnya menghentikan penjualan Kopi Papua, terutama Wamena Single Origin atau Baliem Blue Coffee dalam bentuk green beans, dan selanjutnya memfokuskan diri kepada kopi bubuk Papua dengan merek daganga Baliem Blue Coffee.

Dengan pembenahan organisasi dan penguatan Gudang Produksi Baliem Blue Coffee ini diharapkan memberikan keuntungan yang lebih besar kepada Koperasi dan selanjutnya kepada Gudang dan kepada PAPUAmart.com

Kopi Papua Kian Mendunia

Sumber Berita: Sriwijayapost.com, Kamis, 21 Mei 2015 10:35

Profuk Kopi Wamena dari KSU Baliem Arabica

Profuk Kopi Wamena dari KSU Baliem Arabica

SRIPOKU.COM, JAKARTA – Kopi dari tanah Papua kian populer. Bahkan rasanya telah dicicip sampai Amerika Serikat (AS) selama tujuh tahun. Kopi Arabica dari Wamena menjadi salah satu kopi favorit pada tiga negara.

Kabupaten Wamena, Provinsi Papua rupanya memiliki kualitas tinggi untuk jenis Kopi Arabica. Petani kopi di Papua menanam kopi secara organik. Cita rasa yang khas diuntungkan karena tumbuh di daerah Pegunungan Jayawijaya Wamena dengan ketinggian hingga 1.600 meter di atas permukaan laut. Sehingga, rasanya tidak terlalu asam saat diseruput.

Rasa inilah yang membuat empat negara yakni: Amerika Serikat bahkan telah mengimpor kopi dari Papua selama tujuh tahun belakangan. Lalu, Australia, Singapura dan Belanda secara rutin setiap tahun khusus mendatangkan kopi asal Papua ini.

Yusni Emilia Harahap, Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementerian Pertanian mengatakan, pasar internasional akan semakin terbuka dengan produk pertanian berbasis organik dan ramah lingkungan. Itu sebabnya, pemerintah mendorong agar petani untuk menerapakan prinsip pertanian yang baik. “Memang ongkosnya lebih mahal. Namun pasar akan lebih berkelanjutan (sustain) dan pasti,” tandas Emilia.

Meski begitu, Emilia menyadari bahwa petani kopi masih kekurangan untuk mesin pengolahan kopi. Serta bantuan penguatan modal. Di samping juga informasi harga pasaran kopi domestik dan luar negeri. Gunanya, menjaga kestabilan harga di pasaran serta juga untuk lebih meningkatkan mutu kopi olahan yang dihasilkan.

Konsumsi kopi asal Indonesia terus meningkat di pasar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data statistik dari U.S Department of Commerce, Bureau of Census, impor kopi AS dari Indonesia pada periode Januari-Desember 2014 sebesar US$ 323,10 juta dollar naik sebesar 11,29% dibandingkan periode yang sama tahun 2013.

Indonesia berada di peringkat ke 6 sebagai negara sumber impor kopi AS dengan pangsa pasar sebesar 5,49%. Posisi Indonesia berada di bawah Brasil, Kolombia, Vietnam, Kanada, dan Guatemala. Sementara impor kopi AS dari dunia untuk periode Januari hingga Desember 2014 sebesar US$ 5,88 miliar naik 10,46% dibandingkan periode yang sama tahun 2013.
Editor: Bedjo
Sumber: Kontan

KSU Baliem Arabica Membuka Agen Distibusi Kopi Papua untuk Australia Branch pada 20 November 2014

Setelah utusan KSU Baliem Arabica untuk menghadiri Kongres yang diselenggarakan oleh IUCN, yaitu World Praks Congress (Kongres Taman Sedunia) yang diselenggarakan oleh IUCN di Sydney Olympic Park Australia pada 12 – 19 November 2014, maka Jhon Yonathan Kwano sebagai Kepala Unit Sales and Marketing dari KSU Baliem Arabica mengumumkan pada tanggal 20 November 2014 bahwa KSU Baliem Arabica kini telah memiliki agen distribusi Kopi Papua untuk Australia dan bahkan untuk pemasaran dunia berpusat di Canberra, ibukota Negeri Kangguru, Australia.

Pak Y. Kogoya ditujuk sebagai distributor Kopi Papua untuk pemasaran di Ibukota Australia secara khusus dan juga untuk pemasaran di seluruh Australia, dan bila perlu di Oceania dan pemasaran secara global.

Atas kerjasama KSU Baliem Arabica dengan The Jakarta Coffee House (JCH), maka kini KSU Baliem Arabica dapat menjual Kopi Sangrai dalam tiga profile, dan green beans disuplai langsung dari Gudang Jayapura.

Untuk pertanyaan dan pemesanan silahkan hubungi +61-469-756575 atau kunjungi www.organicarabica.coffee

Berikut kontak lain untuk informasi lanjutan:

  • Phone/ Text Message: Jhon Kwnao: +6281286101000 or +6285769223000
  • Email: info@baliemarabica.com or info@papuacoffees.com
  • Mail: Gudang BBCoffee, Jalan Abepura – Sentani, Belakang Kompleks Pertanian, Jalan SPMA, Kampung Harapan, Sentani 99352, Jayapura, Papua, INDONESIA.

Pertemuan dengan Danil dari Republik Altai dan Ruang bagi Roh untuk Bekerja bagi Konservasi

Olympic Park Sydney

Olympic Park Sydney ANZ Stadium

Danil adalah nama seorang Kepala Suku, atau lebih tepat saya sebut Tua Adat dari negara bekas Uni Soviet bernama Republik Altai. Yang menarik bagi utusan KSU Baliem Arabica Jhon Kwano ialah “kharisma rohani” yang mempengaruhi ke seluruh ruang dan waktu di mana beliau berada. Saya nyatakan dia sebagai “Tua Adat yang sejati.”

Dalam banyak kesempatan yang diberikan kepadanya ia selalu bicara tentang “aspek rohani dari upaya konservasi yang dilakukan manusia di dunia”.

Menutup semua pertunjukan dan pidatonya, pada tanggal 18 November 2014 disajikan film tentang Tanah Adat yang bernilai rohani, tempat keramat (sacret sites) di Amerika Serikat, Australia, Altai yang menunjukkan betapa pemerintah dan dunia usaha sama sekali mengabaikan manfaat dan nilai lokasi bagi spiritualitas masyarakat adat setempat dan menghitung keuntungan ekonomi semata-mata sehingga di Amerika Serikat misalnya tanah adat yang sangat sakral digantikan dengan Dam Air yang besar dan menenggelamkan tempat masyarakat adat melakukan upacara adat. Di Altai terjadi realiassi rencana pipa gas yang akan dibawa dari Rusia di Utara ke China di Selatan, melewati Republik Altai, menembus dan merusak tanah adat dan tempat sakral di mana Kepala Suku Danil membangun tempat upacara adat dan tempat pendidikan masyarakat adat sedunia.

Di tempta di mana Danil ada telah dibangun sebuah pusat pertemuan di antara para tokoh adat di seluruh dunia untuk datang dan bertukar kekuatan dan membangun kekuatan dengan tujuan akhir membawa perlindungan dan harmoni dalam kehidupan di seluruh dunia, di mana mengajarkan kepada manusia untuk mencari kehidupan yang bahagia daripada kehidupan yang kaya.

Dalam website mereka http://uchenmek.ru/ dapat dilihat betapa tempat ini telah diperjuangkan dan dibangun dengan perjuangan yang tidak mudah, tetapi memberikan jalan kepada semua Kepala Suku di seluruh dunia untuk datang, bertukar informasi dan bertukar roh.

Berulang-ulang dalam kongres ini Danil menyatakan bahwa aspek rohani dalam usaha konservasi sama sekali diabaikan dan banyak pembicaraan tidak menyentuh esensi. Dalam kesempatan terakhir ini, utusan KSU Baliem Arabica menyampaikan pesan sebagai tanggapan dan penguatan kepada Kepala Suku Danil bahwa:

  1. Atas nama masyarakat adat di pulau New Guinea dan penguasa lokal di Tanah Papua, kami deklarasikan bahwa Masyarakat Adat pernah ada sejak jutaan tahun lalu, tetap ada hari ini, dan akan terus ada selama jutaan tahun mendatang. Sementara peradaban modern ini akan segera berakhir karena ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya mempertahankan hidupnya.
  2. Atas nama masyarakat adat di pulau New Guine mendukung pernyataan Kepala Suku Danil bahwa perlu ada pertemuan rutin antara para kepala suku masyarakat adat di seluruh dunia sebagai upaya menghubungkan roh yang ada di seluruh dunia menjadi satu barisan dan bekerja untuk kepentingan manusia dan kehidupan di Bumi. Dinyatakan bahwa setelah berjuta-juta jam dihabiskan untuk berbicara dari otak dan sains, setelah memproduksi banyak laporan dan pernyataan dari otak dan sains, perlu ada waktu secara khusus diberikan kepada para Kepala Suku untuk duduk dan bekerja untuk kerjasama makhluk roh di seluruh dunia menanggapi pemanasan bumi dan perubahan iklim global
  3. Perlu ada waktu kita berikan kepada Makhluk Roh untuk bertindak mendukung upaya advokasi lingkungan hidup yang dilakukan oleh semua pihak.

Pada kesempatan yang sama, semua utusan dari Afrika, Amerika, Australia, Eropa menyampaikan pandangan atas diskusi yang dipimpin Kepala Suku Danil.

Kepala Suku Danil memberikan “Undangan Khusus” kepada para Kepala Suku di pulau New Guinea untuk datang ke Republik Altai dan bertukar roh dan informasi dan berdoa bersama baik di New Guinea maupun di Altai. Dengan serta-merta Jhon Kwano mewakili para Kepala Sukunya menyatakan “menerima” Undangan dengan rasa hormat dan segala kerendahan hati dan akan sampaikan kepada para tua-tua adat karena tugas John Kwano ialah memasarkan dan menjual Kopi, dan ada orang lain yang secara khusus mengurus para Kepala Suku dan Adat.

Pelajaran dari “Locally Managed Marine Area” di Fiji, Filipina, Madagascar, West Papua, Banda Island dan Kay Island

Stadium Kedua Sydney Olympic Park

Stadium Kedua Sydney Olympic Park

Demikian judul atau topik yang dicantumkan dalam jadwal presentasi di Hall 5 Sydney Olimpic Park, Australia pada tanggal 14 November 2014.

Menarik mendengar ada presentasi dari Tanah Papua (West Papua) tentang pemberlakuan “sasi” (larangan melaut dan memancing) sebagaimana umumnya berlaku di masyarakat adat di seluruh dunia., yang kini berlaku saat ini dalam konteks masyarakat modern setelah dihidupkan kembali atas bantuan LMMA dan diberlakukan di Padaido Biak dan di Tablanusu dan sekitargianya (daerah Tanah Merah Jayapura) serta Raja Ampat, Papua Barat selain Kai dan Banda.

Pertama materi dibawakan oleh Ketua LMMA yang bermarkas di Fiji, disusul presentasi dari Filipina dan West Papua. Cliff Marlessy sebagai seorang “pakar” di dunia NGO di Tanah Papua, yang namanya saya Jhon Kwano, sudah dengar sejak masih kuliah di Universitas Cenderawasih tahun 1980-an – 1990-an menunjukkan betapa Pak Marlessy menguasai pembahasan dan menyajikan materi dengan fasih dan lancar dalam bahasa Inggris. Menjadi kebanggaan betapa anak-anak Melanesia dari Fiji sampai Moluccas bekerja sama dalam menanggapi pemanasan global. Yang mengganggu pikiran ialah “belum ada jaringan atau inisiatif serupa untuk digalakkan di darat”, yaitu belum ada “Locally Managed Forest Area – LMFA”, parallel dengan Locally Managed Marine Area.

Sajian dari Filipina menarik karena selain mereka menggalakkan menejemen sumberdaya di laut, mereka juga ke darat. Menurut penyaji materi, “kita tidak makan ikan sendirian, kita perlu sayuran dan makanan lain dan ikan menjadi lauk yang enak disantap kalau dimakan bersama produk lain dari darat”. Ia memberikan contoh penanaman sayur-mayur dan makanan pokok yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan setempat dan untuk dijual di pasar lokal.

Konsep “Locally Managed” di sini menekankan

  • ketahanan pangan dan konsumsi lokal,
  • penerapan praktek-praktek tradisional, dan
  • pemasaran lokal

Yang diproduksi di wilayah “lolcally managed marine area” ialah produk yang dikonsumsi sendiri dan dipasarkan di tempat atau kampung di mana mereka berada. Tidak ada orientasi mengekspor produk dimaksud karena fokus kegiatan ialah ketahanan pangan di tempat yang bersangkutan berdasarkan apa-apa yang dimiliki di wilayah setempat secara penuh. Menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu seperti saat ini memang harus ada upaya-upaya digalakkan dengan orientasi ketahanan pangan sehingga pada saat krisis itu tiba maka masyarakat setempat tidak perlu panik karena tidak ada ini dan itu dan akibatnya menderita dan mati. Dengan menggalakkan ketahanan pangan seperti ini maka semua pihak di seluruh dunia akan bertahan hidup dengan apa saja yang dimiliki masing-masing masyarakat di tempat kelahiran atau keberadaan mereka masing-masing.

Menurut Cliff Marlessy,

Dalam kegiatan ini yang utama ialah keterlibatan masyarakat setempat, karena yang kita upayakan ialah dalam jangka panjang masyarakat setempat bisa mengelola apa yang mereka miliki turun-temurun secara bersama. Kedua dengan kebersamaan ini pihak luar (perusahaan ikan) yang bertujuan memancing ikan atau melakukan kegiatan untuk mensuplai ke pabrik ikan dapat dihindari/ dipagari karena pemberlakukan keputusan bersama atas nama masyarakat adat setempat. Dalam wilayah “sasi” tidak diperkenankan siapapun melakukan kegiatan di laut sehingga memberikan kesempatan kepada ikan untuk berkembang-biak dan alam untuk memulihkan dirinya kembali. Yang penting masyarakat bersatu, baru mereka bersama menghadapi ancaman perusakan yang datang dari pihak luar,

demikian katanya saat ditanya Jhon Kwano seusai presentasi.

Dalam presentasi terlihat jelas ketersediaan ikan di laut meningkat karena ada pemberlakukan “sasi” atau larangan memancing ikan pada kisaran wilayah laut tertentu dalam jangka waktu tertentu. Saya, Jhon Kwano, teringat akan “sasi” yang pernah berlaku dalam tanaman di darat seperti Sasi Buah Merah, Sasi buah pandan, Sasi Ubi Jalar, sasi Jagung, sasi Ketimun dan sasi-sasi menebang hutan atau membabat rumput yang saya tahu pernah berlaku, dan saya pernah saksikan pemberlakuannya, saya pernah lakukan pemberlakuan itu, yang saat ini sudah tidak kedengaran, apalagi kelihatan lagi. Pada saat pemberlakukan “Sasi Tawy” atau Buah Merah misalnya maka tidak seorangpun diizinkan memtik buah merah dengan alasan apapun tanpa seizin Kepala Tawy.

Pemberlakuan Sasi di Filipina lebih komprehensiv, di darat dan di laut sehingga terlihat jelas betapa “hukum adat” dan tradisi masyarakat adat setempat dapat membantu masyarakat hari ini sehingga hidup berkecukupan secara ekonomi maupun pangan tanpa harus mengeluh kalau tidak ada ketersediaan beras di toko atau supermi untuk dibeli dan dimakan setiap harinya.

Jhon Yonathan Kwano sebagai utusan dari KSU Baliem Arabica menyarankan untuk penerapan di Tanah Papua bahwa pelajaran yang ada di Raja Ampat, Tablanusu dan Padaido dibawa ke darat dan dikembangkan di darat dalam rangka meningkatkan peluang ketahanan pangan dan pengelolaan sumberdaya yang tersedia secara bertanggung-jawab oleh manusia yang hidup di wilayah tertentu di darat.

Utusan KSU Baliem Arabica dan Presiden Republik Palau: Thomas Esang Remengesau, Jr.

Jhon Yonathan Kwano

Jhon Yonathan Kwano, Utusan KSU Baliem Arabica

Sebuah peristiwa menarik terjadi hari ini, 13 November 2014, tepatnya di Olympic Park, Sydney, Australia, di mana utusan KSU Baliem Arabica, Kepala Unit Sales dan Marketing KSU Baliem Arabica Jhon Yonathan Kwano bertemu langsung dengan Presiden Republik Palau Thomas Esang Remengesau, Jr. Pertemuan ini terjadi karena apa yang telah dilakukan oleh sang Presiden merupakan satu-satunya langkah di muka Bumi, dari seluruh Presiden di dunia yang berani dan tepat dalam rangka membela hak asasi dari makhluk lain selain manusia. Bertentangan dengan apa yang dilakukan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang membentuk satu Kementerian Khusus di bidang kemaritiman dan kelautan dengan segala isinya, dalam rangka menguras kekayaan alam yang ada di dalam laut untuk kepentingan ekonomi dan makanan ikan bagi para orang kaya di luar negeri, Preisden Palau menyatakan: Menolak dengan Tegas kegiatan di peraidan Palau yang berorientasi ekspor yang semata-mata mengutamakan kekayaan ekonomi dan uang. Presiden Palau mengumumkan seluruh wilayah Zona Ekonomi Eksklusiv (Exclusive Economic Zone – EEZ) sebagai areal terlindungi. Dengan pelarangan tersebut maka seluruh kegiatan di laut di wilayah EEZ sebagai zona terlarang bagi kegiatan perikanan seperti pemancingan dan kegiatan lainnya yang berorientasi ekonomi.

Presiden Palau tidak menutup mata atas kebutuhan masyarakat setempat dan orang asing yang datang ke negaranya. Ia katakan, “Siapa saja kami persilahkan datang dan makan ikan dan hasil laut yang kami sajikan di sini, di Palau, tetapi kami tidak memproduksi ikan untuk diekspor ke luar negeri. Kami tidak kirim produk laut kami ke luar negeri. Yang mau silahkan datang kemari dan makan di sini!” Masih menurutnya lagi,

Dengan cara ini, ikan kami akan melimpah, karena kami melarang penggunaan metode canggih dan bom atau racun dalam memancing ikan. Kebutuhan ikan di Palau juga ditekan sementara harga ikan kami naikkan sehingga persediaan unutuk konsumen di dalam negeri tersedia menurut kebutuhan, dengan harga yang cukup memadai tinggi sehingga pendapatan para nelayan tetap terpenuhi, dan pada saat yang sama ikan tidak dihabiskan hanya gara-gara untuk mencari uang dengan mengorbankan kepentingan kelestarian laut kita.

Ia memulai pidato singkatnya dengan mengatakan,

“Saya ini seorang pelaut, saya seorang nelayan. Ayah saya seorang nelayan, kakek saya seornag nelayan, anak dan cucu saya juga nelayan. Orang Palau tidak dapat dipisahkan dari laut dan hasil laut. Orang Palau tidak boleh dikorbankan karena hasil laut yang dibutuhkan oleh orang asing di luar sana. Siapa saja yang mau ikan, mari datang dan makan di sini, di Palau”

Mendengar pidato ini, tentu saja utusan KSU Baliem Arabica terbayang tentang masalah yang akan segera menimpa di perairan Indonesia, dengan terbentuknya sebuah Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan para menteri yang adalah pedangan ikan yang berorientasi ekspor, konon para menteri yang bersangkutan dari pengusaha kecil adalah pengekspor ikan, yang adalah kekayaan alam Indonesia. Indonesia sedang mendayung perahu NKRI ke arah yang jelas-jelas bertentangan dengan kapal “Palau” atau dalam gersi Melayu kita sebut negara “Pulau” ini. Dari pidato kampanye sampai pidato pengambilan sumpah, Joko Widodo sudah berulang-kali mengatakan betapa laut Inodnesia sedang tertidur dan harus dibangunkan. Arti sebenarnya ialah “Laut Indonesia belum diexplorasi dan belum dikeruk untuk kepentingan asing, oleh karena itu saya ditugaskan untuk mengeruknya dalam rangka melayani kepentingan konsumen di luar negeri sana.”

Secara khusus sang Presiden Palau menyempatkan diri berbicara dengan utusan KSU Baliem Arabica selama sekitar lima menit dan menyatakan,

Saya undang Anda, pemerintah Anda datang ke Palau dan lihat apa yang sudah kami lakukan, dan jangan lupa bawa pelajarang dari tempat Anda untuk diajarkan kepada kami juga. Kami terbuka. Tempat anda tidak jauh dari tempat saya, lebih dekat ke Palau daripada ke Jakarta, bukan?”

Sebagai tanggapan Jhon Kwnao menyatakan akan berusaha menyampaikan pesan ini kepada Gubernur Provinsi Papua dan Gubernur Provinsi Papua Barat, untuk selanjutnya diteruskan kepada Presiden Republik Indonesia, untuk melihat ke Palau, sisi lain dari potensi laut yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan makhluk-makhluk selain manusia, juga, tidak hanya untuk kepentingan ekonomi manusia.

Dari Kantor Kepresidenan Republik Palau menyatakan akan sangat bersedia datang ke Tanah Papua, khususnya Raja Ampat dan pesisir Utara Papua untuk melihat kemungkinan pelajaran dari Palau diterapkan di Papua dan Papau Barat. Menanggapi itu, Jhon Kwano menyatakan akan melobi dua Gubernur di Tanah Papua untuk berkunjung ke Palau sebagai langkah awal dalam mengambil kebijakan strategis menyangkut perairan dan kelautan sekitar pulau New Guinea bagian barat. Semoga pertemuan ini tidak sia-sia, tetapi berlanjut menjadi sebuah langkah awal menuju Perairan dan Laut Papua yang lestari, bersih dan menawan sebagai bagian tak terpisahkan dari Bumi Surgawi.

Penawaran Khusus Panen Perdana 2014 Berakhir

Penawaran Khusus Panen Perdana Musim Panen 2014 Berakhir pada tanggal 17 Augstus 2014

Dengan mengucapkan ucapan terimakasih kepada para pelanggan setia khususnya di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bali dan di Tanah Papua sendiri, bahwa masa penawaran khusus untuk panen perdana Juli 2014 telah berakhir per tanggal 17 Agustus 2014.

Pada kesempatan ini kami dari KSU Baliem Arabica mengucapkan terimakasih atas kepada agen distribusi kami di Manokwari dan Yogyakarta atas kerjasama yang telah ada sehingga penjualan perdana untuk Paket Khusus Tahap I tahun ini telah berlalu dengan hasil yang memuaskan.

Kami secara khusus mengirimkan pesan “TERIMAKASIH” kepada pembeli kami di kota-kota Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Jayapura dan Bali yang selama ini membeli produk Green beans dari kami, baik langsung ke Gudang Produksi KSU Baliem Arabica di Jayapura, maupun lewat Distributor Tunggal di luar Tanah Papua di Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta.

Ketua Koperasi Baliem Arabica, Selion Karoba menyampaikan secara khusus,

Terimakasih kepada pelanggan kami, terimakasih atas kepercayaan, terimakasih karena Anda tidak salah memilih Kopi tanah Papua, dari petaninya sendiri, dari penanam, pemetik, penjualnya sendiri. Kami tidak beli kopi orang, kami tidak jual kopi orang. Kami tanam sendiri, kami produksi sendiri, kami jual sendiri.

Selanjnya dari Distrubutor Tunggal di Yogyakarta lewat kepala PAPUAmart.com, Roy Karoba menyampaikan kepercayaan pelanggan di seluruh Indonesia telah mulai tertanan. Katanya,

kepercayaan itu mulai tertanam. Tetapi kami akan lihat apakah dia bertumbuh dan bahkan berbuah atau tidak berdasarkan perkembangan waktu-waktu ke depan. Kami sudah punya beberapa pelanggan, terutama Jakarta dan Surabaya, tetapi selama ini masih dilakukan penjualan dalam jumlah kecil. Penawaran khusus yang disampaikan kantor pusat perlu kita lakukan secara berkala dan berturut-turut untuk merangsang pembelian.

Roy Karoba juga menyatakan sekarang ini bukan Kopi Wamena saja digemari, tetapi kopi tanah Papua lainnya seperti Kopi Moanemani, Kopi Dogiyai, Kopi Deiyai, Kopi Arfak, Kopi Goroka, Kopi Hagen, Kopi Pegunungan Bintang juga digembari masyaraekat pecinta Kopi di Indonesia. Menurutnya,

Kami malahan sudah punya pesanan untuk membeli kopi dari Papua New Guinea, seperti Sigri Single Origin, Goroka Single Origin dan Hangen Single Origin. Ada wilayah di PNG seperti Goroka dan Hagen yang lebih dekat ke Pegunungan Bintang (Papua) sehingga pembelian kami perlu lakukan dari Provinsi Papua, bukan dari PNG lagi, karena pelabuhan expor PNG di Port Moresby, di ujung tertimur pulau New Guinea, jadi jauh sekali. Kalau dibawa ke Jayapura lewat Vanimo atau lewat Pegunungan Bintang akan lebih dekat dan lebih murah.

Diharapkan musim panen ini, pada tahapan penjualan kedua kalau ada juga akan ditawarkan kopi-kopi dari Tanah Papua lainnya seperti Kopi Monamenami, Kopi Goroka, Kopi Deiyai, Kopi Hagen, dan lainnya.

Pasar Kopi Wamena akan segera dibuka di Kota Wamena

Passar Kopi Wamena

Passar Kopi Wamena

Dari akun Facebook tanggal 4 Agustus 2014 Ketua Koperasi Baliem Arabica, Selion Karoba menyatakan gebrakan yang dilakukan Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica tahun ini dengan “Membuka Pasar Kopi di Wamena” sehingga seluruh petani kopi datang ke pasar dan menjual hasil perkebunan Kopinya dengan harga yang telah distandarisasi sesuai harga kopi yang berlaku secara nasional maupun internasional.

Standarisasi harga kopi ini bermaksud membantu para petani kopi sehingga mereka tidak secara terus-menerus ditipu oleh para pembeli yang selama ini langsung datang ke tempat para petani atau ke kebun para petani dan langsung menentukan harga kopinya semau mereka, yang dampaknya ialah ialah ketimpangan harga dan secara serius mempengaruhi kestabilan harga Kopi Wamena selama ini.

Dengan pembukaan Pasar Kopi Wamena ini diharapkan semua pembeli yang datang ke Pasar Kopi akan menjual dan membeli dengan harga yang sama.

Berikut harga yang telah ditetapkan KSU Baaliem Arabica Pusat Wamena:

  1. Harga Kopi dalam Bentuk Gabah Asalan / Standar Rp. 7.000;/ Liter kadar 60-75%.
  2. Harga Kopi dalam bentuk Biji Kering standar, kadar 12.50-13.00% Rp. 24.500

Dengan pematokan ini, menurut Karoba para petani Kopi akan mendapatkan keuntungan dan keuntungan yang diperoleh para petani dapat dikendalikan dan dengan demikian akan diketahui jauh sebelum penjualan kopi,

Selama ini para petani kopi punya kopi tetapi mereka belum bisa pastikan berapa uang yagn akan mereka dapat sebelum terjadi negosiasi dan proses jual-belinya. Karena selama ini para pembeli kopi datang ke para petani dengan menyodorkan harga yang tidak sama, ada yang terlalu mahal, maksudnya pembeli datang dengan harga mahal sekali sehingga para petani membanjiri pembeli dimaksud. Ada juga datang dengan harga sangat murah. Jadi para petani tidak tahu secara pasti pendapatan mereka. Ada yang pemeblinya sama, tetapi datang hari ini dengan harga mahal, datang besoknya dengan harga di bawah harga standar, jadi petani kopi disebut dipermainkan oleh para tengkulak.

Itu sebabnya kami lakukan terobosan ini dalam rangka menyelamatkan pengembangan kopi di pegunungan tengah Papua dan sekaligus pertama-tama menyelamatkan semangat menanam dan memelihara kopi yang sudah kami tanamkan dan kobarkan di antara para Masyarakat Adat di seluruh pegunungan Tengah Papua.

Menutup komentarnya Ketua Koperasi mengharapkan supaya para pembeli, baik itu pembeli dari pemerintah, swasta atau lembaga LSM lokal ataupun internasional, semuanya supaya menghargai inisiatif dan gebrakan yang dilakukan KSU Baliem Arabica sebagai pembeli kopi dan investor lokal yang selama ini telah menghabiskan dana, waktu dan tenaga yang banyak untuk kepentingan pengembangan kopi di Tanah Papua secara umuim dan khususnya di Pegunungan Tengah Papua.

KSU Balem Arabica Terimakasih Banyak untuk Wakil Bupati Jayapura

Penyerahan Packaging Baliem Blue Coffee dari Pemda  di Gudang BBCoffee Numbay

Penyerahan Packaging Baliem Blue Coffee dari Pemda di Gudang BBCoffee Numbay

KSU Baliem Arabica sebagai badan usaha kerakyatan bangsa Papua dan para Pengurus Pusat, pengurus Unit dan Pengurus Cabang di Wamena, Sentani Jayapura, Manokwari dan Yogyakarta dengan ini mengucapkan

TERIMAKASIH BANYAK

kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura pada umumnya dan secara khusus Wakil Bupati Kabupaten Jayapura, ‘

Bapak Robert Djoensoe

atas dukungan kepada KSU Baliem Arabica dengan membuatkan

Seluruh pimpinan dan Crew KSU. Baliem Arabica mengucapkan Terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura dan khususnya Kepada BPK. Robert Djoensoe selaku Wakil bupati Jayapura atas dukungan Pengembangan Ekonomi Kreatif melalui KSU. Produksi: Baliem Blue Coffee Harapan. Kiranya TUHAN Yesus Kristus memberkati pelayanan Bapak demi hormat dan kemuliaanNya, AMIN.

Dukungan Pemda Kabupaten Jayapura lewat Wakil Bupati sudah nyata sejak pembukaan Kantor Perwakilan KSU Baliem Arabica secara resmi di Kota Jayapura dengan izin resmi. Kini dukungan itu lebih dinyatakan kepada masyarakat sehingga mudah dilihat oleh orang Papua dengan cara memberikan sumbangan pembuatan Packaging dari Produk Unggulan Tanah Papua, Baliem Blue Coffee, produk yang sampai hari ini baru satu-satunya produk Orang Asli Papua yang berhasil diekspor ke pasar mancanegara, khususnya Amerika Serikat.

“Dukungan sang Wakil Bupati Kabupaten Jayapura seperti ini patut dicontoh oleh bupati-bupati di seluruh Tanah Papua, yang notabene adalah Putra Daerah atau Orang Asli Papua sendiri,”

kata Ketua KSU Baliem Arabica, Selion Karoba.

Menurut Karoba lagi,

“Jalinan kerjasama ini terjalin berkat hati pribadi Robert Djonsoe yang sejak berdinas di Kepolisian Republik Indonesia telah ditunjukkan untuk membantu memajukan orang Papua sehingga menjadi tuan di atas tanah sendiri, di tanah leluhur sendiri, sehingga Orang Asli Papua tidak hanya mengeluh dari pinggir jalan dan dari emperan toko, tetapi menempati tempat-tempat terhormat sebagai tuan tanah di negeri ini.

Bayangkan saja, kalau semua pejabat yang menamakan dirinya “Orang Asli Papua” yang pekerjaannya ke Jakarta – Papua setiap minggu itu kalau perhatikan usaha-usaha yang sudah membawa nama Papua seperti ini kalau mereka perhatikan secara serius, mereka juga akan kenyang dengan pujian dan hormat dari kami-kami masyarakat yang berwirausaha. Apalagi saya ini pimpin Koperasi, jadi apa yang mereka lakukan akan saya laporkan kepada anggota Koperasi setiap Rapat Umum Anggota Tahunan, jadi dampaknya anggota pasti akan berterimakasih.

Tetapi sebelum itu saya berterimakasih, atas nama seluruh anggota Koperasi, dan semua orang Papua, berterimakash kepada pejabat yang punya hatiranui dan melek secara nurani dan rohani.”

Menyangkut produk KSU Baliem Arabica sendiri, Karoba melanjutkan

Kalau Pemda di Kabupaten di seluruh Pegunungan Tengah masing-masing mendukung sedikit saja, tidak milyaran, tetapi ratusan juta saja, kami sanggup mengekspor Kopi sampai ratusan ton, bukan ke Amerika Serikat saja, tetapi juga ke Eropa, Australia dan Asia, tetapi itu sulit karena kami tidak mampu, kami tidak punya uang, kami petani yang masih pakai koteka baru bertani, kami bukan petani berdasi seperti di Jawa atau negara barat.

Selanjutnya diharapkan agar terobosan ini membuka mata bagi semua pejabat dari tingkat Provinsi sampai Kabupaten agar melihat contoh yang diberikan Wakil Bupati Robert Djonsoe. Menurut Selion Karoba lagi menutup pernyataanya,

Orang macam ini saya rasa lebih keriting hatinya daripada keriting fisik. Orang Papua sekarang perlu OAP yang keriting di luar atau yang keriting di dalam? Yang mana yang lebih penting? Yang mana yang lebih berarti?,

tanyanya.