Monthly Archives: November 2014

KSU Baliem Arabica Membuka Agen Distibusi Kopi Papua untuk Australia Branch pada 20 November 2014

Setelah utusan KSU Baliem Arabica untuk menghadiri Kongres yang diselenggarakan oleh IUCN, yaitu World Praks Congress (Kongres Taman Sedunia) yang diselenggarakan oleh IUCN di Sydney Olympic Park Australia pada 12 – 19 November 2014, maka Jhon Yonathan Kwano sebagai Kepala Unit Sales and Marketing dari KSU Baliem Arabica mengumumkan pada tanggal 20 November 2014 bahwa KSU Baliem Arabica kini telah memiliki agen distribusi Kopi Papua untuk Australia dan bahkan untuk pemasaran dunia berpusat di Canberra, ibukota Negeri Kangguru, Australia.

Pak Y. Kogoya ditujuk sebagai distributor Kopi Papua untuk pemasaran di Ibukota Australia secara khusus dan juga untuk pemasaran di seluruh Australia, dan bila perlu di Oceania dan pemasaran secara global.

Atas kerjasama KSU Baliem Arabica dengan The Jakarta Coffee House (JCH), maka kini KSU Baliem Arabica dapat menjual Kopi Sangrai dalam tiga profile, dan green beans disuplai langsung dari Gudang Jayapura.

Untuk pertanyaan dan pemesanan silahkan hubungi +61-469-756575 atau kunjungi www.organicarabica.coffee

Berikut kontak lain untuk informasi lanjutan:

  • Phone/ Text Message: Jhon Kwnao: +6281286101000 or +6285769223000
  • Email: info@baliemarabica.com or info@papuacoffees.com
  • Mail: Gudang BBCoffee, Jalan Abepura – Sentani, Belakang Kompleks Pertanian, Jalan SPMA, Kampung Harapan, Sentani 99352, Jayapura, Papua, INDONESIA.

Baliem Arabica Cooperative Australia Branch is Launched on 20 November 2014

Baliem Arabica Cooperative (KSU Baiem Arabica) has now opened its distributor for Australia, based in Canberra, the Capital city of Australia on November 20th, 2014. The Global Sales and Marketing Manager, Jhon Yonathan Kwano stated that the distributor for Australia is now open and anyone from around the world can now order Papua Coffees from the western half of New Guinea Island via the cooperative’s Australia distributor.

According to Kwano, the distribution Agent, Mr> Y. Kogoya will be in charge of the coffee distribution primarily in Canberra and also all across Australia and Oceania.

This distribution agent was set up by Mr. Kwano just after attending the IUCN’s World Parks Congress 2014 that was held in Sydney Olympic Park from 12 – 19 November 2014. Please refer to Mr. Kwano’s report in Indonesian malay as presented in this website or at Papua Websites.

At this moment, KSU Baliem Arabica supplies both Green Beans with minimum order of 100 kg. directly supplied from Jayapura (Port Numbay) and roasted beans (with 3 profiles: dark roast, medium roast and light roast) in cooperation with the Jakarta Coffee House, Jakarta.

Please call +61-469-756575 to order Papua Coffees or for further information or visit www.organicarabica.coffee

For Papua further information from West Papua: contact us at the following addresses:

  • Phone/ Text Message: Jhon Kwnao: +6281286101000 or +6285769223000
  • Email: info@baliemarabica.com or info@papuacoffees.com
  • Mail: Gudang BBCoffee, Jalan Abepura – Sentani, Belakang Kompleks Pertanian, Jalan SPMA, Kampung Harapan, Sentani 99352, Jayapura, Papua, INDONESIA.

Pertemuan dengan Danil dari Republik Altai dan Ruang bagi Roh untuk Bekerja bagi Konservasi

Olympic Park Sydney

Olympic Park Sydney ANZ Stadium

Danil adalah nama seorang Kepala Suku, atau lebih tepat saya sebut Tua Adat dari negara bekas Uni Soviet bernama Republik Altai. Yang menarik bagi utusan KSU Baliem Arabica Jhon Kwano ialah “kharisma rohani” yang mempengaruhi ke seluruh ruang dan waktu di mana beliau berada. Saya nyatakan dia sebagai “Tua Adat yang sejati.”

Dalam banyak kesempatan yang diberikan kepadanya ia selalu bicara tentang “aspek rohani dari upaya konservasi yang dilakukan manusia di dunia”.

Menutup semua pertunjukan dan pidatonya, pada tanggal 18 November 2014 disajikan film tentang Tanah Adat yang bernilai rohani, tempat keramat (sacret sites) di Amerika Serikat, Australia, Altai yang menunjukkan betapa pemerintah dan dunia usaha sama sekali mengabaikan manfaat dan nilai lokasi bagi spiritualitas masyarakat adat setempat dan menghitung keuntungan ekonomi semata-mata sehingga di Amerika Serikat misalnya tanah adat yang sangat sakral digantikan dengan Dam Air yang besar dan menenggelamkan tempat masyarakat adat melakukan upacara adat. Di Altai terjadi realiassi rencana pipa gas yang akan dibawa dari Rusia di Utara ke China di Selatan, melewati Republik Altai, menembus dan merusak tanah adat dan tempat sakral di mana Kepala Suku Danil membangun tempat upacara adat dan tempat pendidikan masyarakat adat sedunia.

Di tempta di mana Danil ada telah dibangun sebuah pusat pertemuan di antara para tokoh adat di seluruh dunia untuk datang dan bertukar kekuatan dan membangun kekuatan dengan tujuan akhir membawa perlindungan dan harmoni dalam kehidupan di seluruh dunia, di mana mengajarkan kepada manusia untuk mencari kehidupan yang bahagia daripada kehidupan yang kaya.

Dalam website mereka http://uchenmek.ru/ dapat dilihat betapa tempat ini telah diperjuangkan dan dibangun dengan perjuangan yang tidak mudah, tetapi memberikan jalan kepada semua Kepala Suku di seluruh dunia untuk datang, bertukar informasi dan bertukar roh.

Berulang-ulang dalam kongres ini Danil menyatakan bahwa aspek rohani dalam usaha konservasi sama sekali diabaikan dan banyak pembicaraan tidak menyentuh esensi. Dalam kesempatan terakhir ini, utusan KSU Baliem Arabica menyampaikan pesan sebagai tanggapan dan penguatan kepada Kepala Suku Danil bahwa:

  1. Atas nama masyarakat adat di pulau New Guinea dan penguasa lokal di Tanah Papua, kami deklarasikan bahwa Masyarakat Adat pernah ada sejak jutaan tahun lalu, tetap ada hari ini, dan akan terus ada selama jutaan tahun mendatang. Sementara peradaban modern ini akan segera berakhir karena ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya mempertahankan hidupnya.
  2. Atas nama masyarakat adat di pulau New Guine mendukung pernyataan Kepala Suku Danil bahwa perlu ada pertemuan rutin antara para kepala suku masyarakat adat di seluruh dunia sebagai upaya menghubungkan roh yang ada di seluruh dunia menjadi satu barisan dan bekerja untuk kepentingan manusia dan kehidupan di Bumi. Dinyatakan bahwa setelah berjuta-juta jam dihabiskan untuk berbicara dari otak dan sains, setelah memproduksi banyak laporan dan pernyataan dari otak dan sains, perlu ada waktu secara khusus diberikan kepada para Kepala Suku untuk duduk dan bekerja untuk kerjasama makhluk roh di seluruh dunia menanggapi pemanasan bumi dan perubahan iklim global
  3. Perlu ada waktu kita berikan kepada Makhluk Roh untuk bertindak mendukung upaya advokasi lingkungan hidup yang dilakukan oleh semua pihak.

Pada kesempatan yang sama, semua utusan dari Afrika, Amerika, Australia, Eropa menyampaikan pandangan atas diskusi yang dipimpin Kepala Suku Danil.

Kepala Suku Danil memberikan “Undangan Khusus” kepada para Kepala Suku di pulau New Guinea untuk datang ke Republik Altai dan bertukar roh dan informasi dan berdoa bersama baik di New Guinea maupun di Altai. Dengan serta-merta Jhon Kwano mewakili para Kepala Sukunya menyatakan “menerima” Undangan dengan rasa hormat dan segala kerendahan hati dan akan sampaikan kepada para tua-tua adat karena tugas John Kwano ialah memasarkan dan menjual Kopi, dan ada orang lain yang secara khusus mengurus para Kepala Suku dan Adat.

Mengapa KSU Baliem Arabica Hadir di World Parks Congress 2014 di Sydney, Australia?

Selamat Datang WPC

Selamat Datang World Parks Congress Sydney 2014

Tentu saja pertanyaan ini sudah mengemuka sejak membaca artikel dan persiapan utusan KSU Baliem Arabica menuju kongres sedunia yang diselenggarakan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membidangi lingkungan hidup dan konservasi, yang diselenggarakan sekali setiap satu dekade (10 tahun). Kebanyakan even internasional di dunia terjadi secara tahunan, dan sering juga per empat tahun atau lima tahun, tetapi peristiwa per satu dekade ini penting untuk dihadiri oleh semua manusia yang hidup di planet Bumi. Alasan pertama karena peristiwa ini berbicara tentang alam, Bumi dan perlindungannya, karena semua manusia, semua makhluk, hidup di planet bernama Bumi. Upaya konservasi ialah upaya untuk mempertahankan planet Bumi sebagai tempat yang tetap layak huni, agar supaya kehidupan tidak menjadi punah karena ulah perbuatan manusia sendiri. Maka diupayakan tempat-tempat di darat maupun di laut yang dianggap bernilai ekologis dan ekosistem diperjuangkan untuk menjadi daerah atau wilayah konservasi. Di Tanah Papua kita tahu Taman Nasional Wasur dan Taman Nasional Lorentz serta taman nasional di Teluk Cenderawasih dan Raja Ampat sebagai cagar alam dan taman nasional, yang dilindungi oleh negara, didaftarkan dan diakui oleh badan internasoinal seperti UNESCO dan IUCN.

Alasan lainnya karena peristiwa ini terjadi sekali dalam 10 tahun sehingga banyak masalah yang menumpuk selama 10 tahun menjadi fokus dari semua manusia di dunia untuk dibawa ke forum internasional seperti ini.

Alasan ketiga karena misi dan visi dari Koperasi Baliem Arabica mewujudkan iklim usaha yang bersahabat dengan lingkungan sekitar di mana usaha koperasi dilakukan, yaitu bersahabat dengan alam sekitar dan budaya masyarakat sekitar. KSU Baliem Arabica lewat Unit Tanggungjawab Lingkungan (yaitu lingkungan sosial dan lingkungan alam) selama tiga tahun belakangan ini telah aktiv dalam melakukan pendidikan, penyuluhan dan penyebarluasan informasi tentang lingkungan alam di mana kita hidup. Juga sudah aktiv dalam pembersihan eceng gondok di danau Sentani, Kabupaten Jayapura karena teridentifikasi eceng gondok ialah tanaman exotic (pendatang) yang bersifat invasive (menguasai dan membunuh spesies asli). Sampai detik inipun, kegiatan penanganan eceng gondok sedang berlangsung. Dalam waktu singkat, awal tahun 2015, KSU Baliem Arabica Unit Tanggungjawab Lingkungan berencana meluncurkan program “Papua Hijau” yang bertujuan mendistribusikan informasi dan melakukan langkah-langkah konservasi lingkungan di Tanah Papua.

Mengapa Koperasi Baliem Arabica?

Koperasi Baliem Arabica ialah perintis dan sampai hari ini satu-satunya badan usaha milik Orang Asli Papua yang memproduksi dan mengekspor produk dari Tanah Papua ke luar negeri, dan oleh karena itu dalam pentas perdagangan global, KSU Baliem Arabica harus hadir sebagai perusahaan yang tahu diri, tahu diri dari sisi di mana ia beroperasi dan menanam kopi, di mana para petani kopi hidup, dan di mana para konsumen kopi Papua hidup. Tanah Papua sebagai tempat pijakan pertama KSU Baliem Arabica secara otomatis menjadi tanggungjawab moral untuk mengupayakan kelestarian Bumi Cenderawasih. Merintis sesuatu ialah mulia, walaupun apa yang dilakukan barangkali tidak begitu berarti dan tidak dapat dianggap berguna kalau dibandingkan dengan apa yang dilakukan NGO konservasi alam seperti Walhi, WWF dan Conservation International.

KSU Baliem Arabica sebagai perintis ekspor kopi dari Tanah Papua merasa secara otomatis bertanggungjawab atas pelestarian Bumi Cenderawasih dan mengundang semua badan usaha yang beroperasi di Tanah Papua untuk bersama-sama berbaris menyatukan kekuatan, melakukan kegiatan-kegiatan pelestarian dan konservasi lingkungan alam di Tanah Papua.

KSU Baliem Arabica sungguh berharap agar kunjungannya ke WorldParksCongress.org tahun 2014 di Olympic Park, Sydney, New South Wales, Australia ini memberikan masukan dan pelajaran yang berarti buat nantinya kembali dan diterapkan dalam pengembangan usaha-usaha ekonomi yang dikelola Koperasi.

Jhon Yonathan Kwano sebagai utusan yang mengusulkan Koperasi untuk membiayai kunjungan ke kegiatan ini berdoa kiranya Tuhan pencipta Tanah Papua dan pencipta umat manusia sekalian, khususnya  yang ada dan berbisnis di Tanah Papua, apapun jenis usahanya, apapun agama, ras dan sukunya, menjadi sadar dan berdoa agar Bumi ini tetap menjadi tepat yang layak huni bagi kita saat ini, bagi anak-anak dan cucu kita di hari esok dan buat puluhan dan ratusan generasi kita mendatang.

 

Bush Heritage Australia dan Menejemen Proyek Berbasis Komunitas

Setelah pertemuan dan pelajaran dari Presiden Palau terkait inisiatif dan langkah strategis pemerintah dalam melindungi alam sekitar dan belajar dari pengalaman LMMA di kawasan Melanesia (Fiji sampai kepulauan Kay) pada hari kemarin (14 November), maka pada hari ini, 15 November 2014 utusan KSU Baliem Arabica melakukan pertemuan 2 jam dengan para pengelola dan anggota dari Bush Heritage Australia.

Bush Herige Australia ialah sebuah proyek yang dijalankan oleh masyarakat adat di bagian Utara Benua Afrika, yang secara administrasi pemerintahan federal Australia berada di wilayah sekitar Darwin, nama wilayah yang diambil dari sang teoretisi Charles Darwin yang memunculkan gagasan evolusi dan seleksi alam, di mana manusia di dunia yang lemah dan ras yang tidak dapat bertahan akan punah sesuai dengan rumus hukum alam dan pendudukan dan penjajahan ialah akibat alamiah dari proses seleksi alam. Masyarakat Adat di wilayah Darwin saat ini menyatakan “Tidak benar!” kepada sang tokoh evolusioner ini. Mereka telah memenangkan sebuah pertarungan hukum di pengadilan dan memenangkan banyak tanah adat menjadi tanah milik Masyarakat Adat setempat, yang dulunya tidak pernah diakui.

Bush Heritage tidak hanya berusaha menkleim tanah, tetapi mereka juga telah mengambil inisiativ sendiri dan mengeluarkan sebuah peta pengelolaan Tanah Adat mereka yang begitu komprehensiv. Proses pembuatan peta wilayah dimulai beberapa tahun lalu. Disusul 3 tahun proses penyusunan program di antara suku-suku yang ada sehingga rencana tersebut disatukan ke dalam sebuah dokumen yang akhirnya dipresentasikan kepada pemerintah federal.

Rencana yang telah saja, Jhon Kwano baca menunjukkan sebuah program yang begitu luas dan dalam, dan disampaikan dalam bentuk cerita. Cerita dari masyarakat adat dan tua-tua adat ditulis dan dicetak seperti diceritakan langsung dan tercetak. Rencana dimaksud terdiri dari

  1. Peta wilayah adat
  2. peta tanah adat bagi masing-masing klen dan suku
  3. program kerja strategis di wilayah tanah adat mereka
  4. program kerja jangka pendek, menengah dan panjang untuk tanah adat.

Di dalamnya terdapat peta wilayah yang bisa dipakai untuk pembangunan rumah tinggal, tanah untuk pertenian, tanah untuk berburu, tanah untuk membiarkan turis datang, dan tangah di mana selain masyarakat adat setempat tidak diizinkan untuk mendapatkan akses dengan alasan apapun juga. Ini mereka sebut “No-Go Zone”.

Pemerintah setempat, setara dengan provinsi di Indonesia, juga datang dan bersama dengan mereka memberikan kesaksian bahwa apa yang dilakukan masyarakat adat dengan program Bush Heritage ialah sesuatu yang positiv dan patut dicontoh oleh semua Masyarakat Adat di seluruh dunia. Kata mereka,

“Kami pemerintah hanya manusia. Kami tidak bisa berbuat yang terbaik untuk semua orang. Jadi masing-masing kelompok seharusnya datang dengan program mereka, keterangan tentang mereka, apa yang mereka mau dan apa yang mereka tidak mau, disertai alasan-alasan yang disajikan secara jelas, maka pemerintah pasti akan mendukungnya. Sebelumnya masyarakat adat datang dan melakukan demonstrasid an protes dan itu sulit bagi pemerintah untuk bersedia berdialog. Seharusnya masyarakat adat datang dengan gambaran yang jelas apa yang mereka lawan, apa yang mereka tolak, apa yang mereka mau, dan digambarkan secara jelas dan disampaikan langsung. Ini sangat membantu.”

Dari diskusi ini, saya, Jhon Kwano berharap pemerintah provinsi Papua dan masyarakat adat di seluruh Tanah Papua mengambil langkah. Pertama masing-masing kelompok masyarakat adat duduk dan berbicara, berpikir dan berencana, menyangkut tanah leluhur mereka, menyangkut apa yang harus dilakukan di atas tanah mereka, dan menyampaikannya kepada pemerintah kabupaten, kota dan provinsi. Kalau tidak begitu, orang Papua akan berdiri sebagai penonton, dan selalu memprotes semua yang datang dari pemerintah, tanpa memberikan alasan yang jelas, tanpa memberikan solusi yang tepat, tanpa rencana jalan keluar yang tepat.

Pelajaran dari “Locally Managed Marine Area” di Fiji, Filipina, Madagascar, West Papua, Banda Island dan Kay Island

Stadium Kedua Sydney Olympic Park

Stadium Kedua Sydney Olympic Park

Demikian judul atau topik yang dicantumkan dalam jadwal presentasi di Hall 5 Sydney Olimpic Park, Australia pada tanggal 14 November 2014.

Menarik mendengar ada presentasi dari Tanah Papua (West Papua) tentang pemberlakuan “sasi” (larangan melaut dan memancing) sebagaimana umumnya berlaku di masyarakat adat di seluruh dunia., yang kini berlaku saat ini dalam konteks masyarakat modern setelah dihidupkan kembali atas bantuan LMMA dan diberlakukan di Padaido Biak dan di Tablanusu dan sekitargianya (daerah Tanah Merah Jayapura) serta Raja Ampat, Papua Barat selain Kai dan Banda.

Pertama materi dibawakan oleh Ketua LMMA yang bermarkas di Fiji, disusul presentasi dari Filipina dan West Papua. Cliff Marlessy sebagai seorang “pakar” di dunia NGO di Tanah Papua, yang namanya saya Jhon Kwano, sudah dengar sejak masih kuliah di Universitas Cenderawasih tahun 1980-an – 1990-an menunjukkan betapa Pak Marlessy menguasai pembahasan dan menyajikan materi dengan fasih dan lancar dalam bahasa Inggris. Menjadi kebanggaan betapa anak-anak Melanesia dari Fiji sampai Moluccas bekerja sama dalam menanggapi pemanasan global. Yang mengganggu pikiran ialah “belum ada jaringan atau inisiatif serupa untuk digalakkan di darat”, yaitu belum ada “Locally Managed Forest Area – LMFA”, parallel dengan Locally Managed Marine Area.

Sajian dari Filipina menarik karena selain mereka menggalakkan menejemen sumberdaya di laut, mereka juga ke darat. Menurut penyaji materi, “kita tidak makan ikan sendirian, kita perlu sayuran dan makanan lain dan ikan menjadi lauk yang enak disantap kalau dimakan bersama produk lain dari darat”. Ia memberikan contoh penanaman sayur-mayur dan makanan pokok yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan setempat dan untuk dijual di pasar lokal.

Konsep “Locally Managed” di sini menekankan

  • ketahanan pangan dan konsumsi lokal,
  • penerapan praktek-praktek tradisional, dan
  • pemasaran lokal

Yang diproduksi di wilayah “lolcally managed marine area” ialah produk yang dikonsumsi sendiri dan dipasarkan di tempat atau kampung di mana mereka berada. Tidak ada orientasi mengekspor produk dimaksud karena fokus kegiatan ialah ketahanan pangan di tempat yang bersangkutan berdasarkan apa-apa yang dimiliki di wilayah setempat secara penuh. Menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu seperti saat ini memang harus ada upaya-upaya digalakkan dengan orientasi ketahanan pangan sehingga pada saat krisis itu tiba maka masyarakat setempat tidak perlu panik karena tidak ada ini dan itu dan akibatnya menderita dan mati. Dengan menggalakkan ketahanan pangan seperti ini maka semua pihak di seluruh dunia akan bertahan hidup dengan apa saja yang dimiliki masing-masing masyarakat di tempat kelahiran atau keberadaan mereka masing-masing.

Menurut Cliff Marlessy,

Dalam kegiatan ini yang utama ialah keterlibatan masyarakat setempat, karena yang kita upayakan ialah dalam jangka panjang masyarakat setempat bisa mengelola apa yang mereka miliki turun-temurun secara bersama. Kedua dengan kebersamaan ini pihak luar (perusahaan ikan) yang bertujuan memancing ikan atau melakukan kegiatan untuk mensuplai ke pabrik ikan dapat dihindari/ dipagari karena pemberlakukan keputusan bersama atas nama masyarakat adat setempat. Dalam wilayah “sasi” tidak diperkenankan siapapun melakukan kegiatan di laut sehingga memberikan kesempatan kepada ikan untuk berkembang-biak dan alam untuk memulihkan dirinya kembali. Yang penting masyarakat bersatu, baru mereka bersama menghadapi ancaman perusakan yang datang dari pihak luar,

demikian katanya saat ditanya Jhon Kwano seusai presentasi.

Dalam presentasi terlihat jelas ketersediaan ikan di laut meningkat karena ada pemberlakukan “sasi” atau larangan memancing ikan pada kisaran wilayah laut tertentu dalam jangka waktu tertentu. Saya, Jhon Kwano, teringat akan “sasi” yang pernah berlaku dalam tanaman di darat seperti Sasi Buah Merah, Sasi buah pandan, Sasi Ubi Jalar, sasi Jagung, sasi Ketimun dan sasi-sasi menebang hutan atau membabat rumput yang saya tahu pernah berlaku, dan saya pernah saksikan pemberlakuannya, saya pernah lakukan pemberlakuan itu, yang saat ini sudah tidak kedengaran, apalagi kelihatan lagi. Pada saat pemberlakukan “Sasi Tawy” atau Buah Merah misalnya maka tidak seorangpun diizinkan memtik buah merah dengan alasan apapun tanpa seizin Kepala Tawy.

Pemberlakuan Sasi di Filipina lebih komprehensiv, di darat dan di laut sehingga terlihat jelas betapa “hukum adat” dan tradisi masyarakat adat setempat dapat membantu masyarakat hari ini sehingga hidup berkecukupan secara ekonomi maupun pangan tanpa harus mengeluh kalau tidak ada ketersediaan beras di toko atau supermi untuk dibeli dan dimakan setiap harinya.

Jhon Yonathan Kwano sebagai utusan dari KSU Baliem Arabica menyarankan untuk penerapan di Tanah Papua bahwa pelajaran yang ada di Raja Ampat, Tablanusu dan Padaido dibawa ke darat dan dikembangkan di darat dalam rangka meningkatkan peluang ketahanan pangan dan pengelolaan sumberdaya yang tersedia secara bertanggung-jawab oleh manusia yang hidup di wilayah tertentu di darat.

Utusan KSU Baliem Arabica dan Presiden Republik Palau: Thomas Esang Remengesau, Jr.

Jhon Yonathan Kwano

Jhon Yonathan Kwano, Utusan KSU Baliem Arabica

Sebuah peristiwa menarik terjadi hari ini, 13 November 2014, tepatnya di Olympic Park, Sydney, Australia, di mana utusan KSU Baliem Arabica, Kepala Unit Sales dan Marketing KSU Baliem Arabica Jhon Yonathan Kwano bertemu langsung dengan Presiden Republik Palau Thomas Esang Remengesau, Jr. Pertemuan ini terjadi karena apa yang telah dilakukan oleh sang Presiden merupakan satu-satunya langkah di muka Bumi, dari seluruh Presiden di dunia yang berani dan tepat dalam rangka membela hak asasi dari makhluk lain selain manusia. Bertentangan dengan apa yang dilakukan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang membentuk satu Kementerian Khusus di bidang kemaritiman dan kelautan dengan segala isinya, dalam rangka menguras kekayaan alam yang ada di dalam laut untuk kepentingan ekonomi dan makanan ikan bagi para orang kaya di luar negeri, Preisden Palau menyatakan: Menolak dengan Tegas kegiatan di peraidan Palau yang berorientasi ekspor yang semata-mata mengutamakan kekayaan ekonomi dan uang. Presiden Palau mengumumkan seluruh wilayah Zona Ekonomi Eksklusiv (Exclusive Economic Zone – EEZ) sebagai areal terlindungi. Dengan pelarangan tersebut maka seluruh kegiatan di laut di wilayah EEZ sebagai zona terlarang bagi kegiatan perikanan seperti pemancingan dan kegiatan lainnya yang berorientasi ekonomi.

Presiden Palau tidak menutup mata atas kebutuhan masyarakat setempat dan orang asing yang datang ke negaranya. Ia katakan, “Siapa saja kami persilahkan datang dan makan ikan dan hasil laut yang kami sajikan di sini, di Palau, tetapi kami tidak memproduksi ikan untuk diekspor ke luar negeri. Kami tidak kirim produk laut kami ke luar negeri. Yang mau silahkan datang kemari dan makan di sini!” Masih menurutnya lagi,

Dengan cara ini, ikan kami akan melimpah, karena kami melarang penggunaan metode canggih dan bom atau racun dalam memancing ikan. Kebutuhan ikan di Palau juga ditekan sementara harga ikan kami naikkan sehingga persediaan unutuk konsumen di dalam negeri tersedia menurut kebutuhan, dengan harga yang cukup memadai tinggi sehingga pendapatan para nelayan tetap terpenuhi, dan pada saat yang sama ikan tidak dihabiskan hanya gara-gara untuk mencari uang dengan mengorbankan kepentingan kelestarian laut kita.

Ia memulai pidato singkatnya dengan mengatakan,

“Saya ini seorang pelaut, saya seorang nelayan. Ayah saya seorang nelayan, kakek saya seornag nelayan, anak dan cucu saya juga nelayan. Orang Palau tidak dapat dipisahkan dari laut dan hasil laut. Orang Palau tidak boleh dikorbankan karena hasil laut yang dibutuhkan oleh orang asing di luar sana. Siapa saja yang mau ikan, mari datang dan makan di sini, di Palau”

Mendengar pidato ini, tentu saja utusan KSU Baliem Arabica terbayang tentang masalah yang akan segera menimpa di perairan Indonesia, dengan terbentuknya sebuah Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan para menteri yang adalah pedangan ikan yang berorientasi ekspor, konon para menteri yang bersangkutan dari pengusaha kecil adalah pengekspor ikan, yang adalah kekayaan alam Indonesia. Indonesia sedang mendayung perahu NKRI ke arah yang jelas-jelas bertentangan dengan kapal “Palau” atau dalam gersi Melayu kita sebut negara “Pulau” ini. Dari pidato kampanye sampai pidato pengambilan sumpah, Joko Widodo sudah berulang-kali mengatakan betapa laut Inodnesia sedang tertidur dan harus dibangunkan. Arti sebenarnya ialah “Laut Indonesia belum diexplorasi dan belum dikeruk untuk kepentingan asing, oleh karena itu saya ditugaskan untuk mengeruknya dalam rangka melayani kepentingan konsumen di luar negeri sana.”

Secara khusus sang Presiden Palau menyempatkan diri berbicara dengan utusan KSU Baliem Arabica selama sekitar lima menit dan menyatakan,

Saya undang Anda, pemerintah Anda datang ke Palau dan lihat apa yang sudah kami lakukan, dan jangan lupa bawa pelajarang dari tempat Anda untuk diajarkan kepada kami juga. Kami terbuka. Tempat anda tidak jauh dari tempat saya, lebih dekat ke Palau daripada ke Jakarta, bukan?”

Sebagai tanggapan Jhon Kwnao menyatakan akan berusaha menyampaikan pesan ini kepada Gubernur Provinsi Papua dan Gubernur Provinsi Papua Barat, untuk selanjutnya diteruskan kepada Presiden Republik Indonesia, untuk melihat ke Palau, sisi lain dari potensi laut yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan makhluk-makhluk selain manusia, juga, tidak hanya untuk kepentingan ekonomi manusia.

Dari Kantor Kepresidenan Republik Palau menyatakan akan sangat bersedia datang ke Tanah Papua, khususnya Raja Ampat dan pesisir Utara Papua untuk melihat kemungkinan pelajaran dari Palau diterapkan di Papua dan Papau Barat. Menanggapi itu, Jhon Kwano menyatakan akan melobi dua Gubernur di Tanah Papua untuk berkunjung ke Palau sebagai langkah awal dalam mengambil kebijakan strategis menyangkut perairan dan kelautan sekitar pulau New Guinea bagian barat. Semoga pertemuan ini tidak sia-sia, tetapi berlanjut menjadi sebuah langkah awal menuju Perairan dan Laut Papua yang lestari, bersih dan menawan sebagai bagian tak terpisahkan dari Bumi Surgawi.

IUCN World Parks Congress 2014 dan Tekad KSU Baliem Arabica

IUCN World Parks Congress

IUCN World Parks Congress

IUCN World Parks Congress 2014 merupakan sebuah “landmark” forum global dari taman yang terlindungi di dunia. Kongres ini akan berbagi pengetahuan dan inovasi, menetapkan agenda untuk konservasi tempat-tempat yang terlindungi selama dekade-dekade mendatang. Membangun dari tema “Parks, people, planet: inspiring solutions”, acara ini akan menyajikan, membahas dan menciptakan pendekatan-pendekatan original untuk konservasi dan pembangunan, membantu menangani gap dalam agenda konservasi dan pembangunan. Demikian dinyatakan WorldParksCongress.org

Dengan gambaran dan tema seperti ini, tentu saja yang tertarik ialah semua manusia di dunia, para penghuni planet Bumi karena ada hubungan langsung antara perlindungan/ konservasi alam dengan pembangunan yang berujung kepada nasib manusia dan nasib semua makhluk di planet Bumi.

Keperdulian terhadap lingkungan lama dimulai sejak lama, tetapi menjadi lebih serius setelah ada penemuan bahwa pemanasan Bumi menjadi ancaman bagi kehidupan di planet Bumi karena telah terjadi penipisan laposn ozone yang berfungsi sebagai lapisan yang membantu mengimbangi panas matahari langsung ke Bumi.

Bumi Cenderawasih atau pulau New Guinea dikatakan memiliki hutan tropis terbanyak nomor dua di dunia. KSU Baliem Arabica sebagai sebuah kelompok usaha milik penduduk Asli Papua di pegunungan Tengah Papua yang menjadi perintis dalam mengekspor produk asli Papua ke pasar internasional merasa bertanggungjawab secara moral menjadi perintis dalam berbagai hal, terutama demi kelangsungan hidup di tanah Papua.

Tanggungjawab lingkungan KSU Baliem Arabica dibentuk sejak 2012 dan selama ini KSU Baliem Arabica aktiv dalam menyebarkan informasi lewat brosur dan lokakarya di kalangan para petani kopi tentang pentingnya lingkungan alam sekitar, tumbuhan dan hewan exotic yang invasive dan bagaimana cara mengendalikan spesies yang dianggap membahayakan spesies asli Tanah Papua.

Sebagai kelanjutan dari Tanggungjawab Lingkungan, KSU Baliem Arabica yang tanaman kopinya sebagian masuk ke Taman Nasional Lorentz yang diproteksi secara hukum membawa diri ke acara-cara lokal maupun internasional dalam rangka memahami bagaimana mengimbangi kerusakan lingkungan sementara kegiatan usaha tetap dijalankan demi pembangunan ekonomi Orang Asli Papua. (OAP).

Kami sebagai badan usaha milik OAP hendak menunjukkan jalan yang benar bagi semua Badan Usaha yang bergerak di Bumi Cenderawasih baik di bagian barat maupun timur tanah Papua bahwa keperdulian terhadap Lingkungan alam haruslah menjadi prioritas daripada kepentingan ekonomi dan politik.

Kami berharap kehadiran KSU Baliem Arabica dengan biaya yang besar ini tidak sia-sia.

WorldParksCongress.org Australia 2014 dihadiri Utusan KSU Baliem Arabica

Selamat datang peserta World Parks Congress

Selamat datang peserta World Parks Congress

Sebagai bagian dari tanggungjawab lingkungan dari KSU Baliem Arabica, setelah meluncurkan proyek pembersihan Eceng Gondok sebagai tumbuhan exotic yang invasive di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, maka KSU Baliem Arabica Unit Tanggungjawab Lingkungan saat ini mengutus Kepala Unit Global Sales & Marketing Koperasi untuk menghadiri Kongres Taman Sedunia (World Parks Congress) 2014 di Sydney, Australia.

KSU Baliem Arabica telah menyampaikan lamaran kepada panitia untuk menghadirinya dan telah membayar biaya administrasi kongres, sekaligus membayar biaya hotel untuk 9 malam.

Pendaftaran yang disampaikan Koperasi dari Tanah Papua, tepatnya di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah Papua ini telah diterima panitia. Ditindaklanjuti dengan persetujuan atas lamaran visa bisnis yang diajukan oleh Koperasi kepada Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Acara akan berlangsung tanggal 12 – 20 November 2014, bertempat di ICMS Australasia, GPO Box 3270, Sydney NSW 2001.

Acara ini diselenggarakan oleh International Union for Conservation of Nature dengan tema Parks, People, Planet: Inspiring Solutions.

Selain utusan dari Koperasi Baliem Arabica, acara ini juga akan dihadiri utusan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.