Tag Archives: potensi Kopi Papua

Potensi Kopi Arabica Organik Baliem Papua dalam Pengembangan Pangsa Pasar Ekspor

WEDNESDAY, AUGUST 29, 2012. Blogspot.com

Nikmatnya Kopi Arabica asal lembah Baliem Papua memiliki cirri khas tertentu dibandingkan dengan kopi lainnya। Lembah Baliem merupakan daerah tempat tinggal Suku Dani। Masyarakat adat yang diperkenalkan ke dunia luar sebagai petani pejuang. Mereka hidup bertani, namun gemar berperang. Kopi Baliem ini adalah kopi papua jenis arabika. Kopi yang memiliki ciri khasnya arabika, karakter rebusannya asam, agak berbeda dengan karakter rebusan kopi robusta yang lebih pahit.

Tidak terlalu pahit karena memang arabika memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibanding robusta. Head of Cooperative KSU Baliem Arabica; Selion Karoba mengungkapkan, September 2012 mendatang, pihaknya akan mengekspor kopi ke Amerika 18 ton. Tahun ke tahun hasil produksi kopi di Pegunungan Tengah Papua terus meningkat, pertama kita ekspor 12 ton, kemudian 14 ton dan 16 ton, selanjutnya September 2012 kita kirim ke Amerika 18 ton,ujar Selion Karoba kepada Harian Pagi Papua, di Wamena.

Pada tahun 2000 untuk luas lahan tanaman kopi di Kabupaten Jayawijaya tercatat 3.076 hektar, yang merupakan hampir setengah (42,7 persen) dari luas total (6.208 hektar) areal perkebunan kopi Provinsi Irian Jaya. Perkebunan yang keseluruhannya milik rakyat ini tersebar di Kecamatan Tiom, Bokondini, dan Asologaima.

Produksi kopi Jayawijaya yang juga diekspor ke Singapura, Jepang, dan Australia ini, besarnya 316,30 ton atau setara dengan hampir setengah produksi kopi provinsi yang besarnya 740,3 ton.

Selain ke Amerika lanjut Selion, pihaknya juga akan mengirim kopi ke sejumlah tempat seperti Friport dan Jakarta. Mengenai harga kopi, Selion Karoba mengatakan, harga kopi ditentukan dalam Rapat Umum Anggota (RUA) KSU Baliem Arabica, dimana tahun ini harga pembelian kopi dari petani Rp 6.000 per liter. “Kita sudah beberapa kali naikkan harga pembelian kopi, 2010 lalu harga kopi gabah (kopi dengan kulit kering) Rp 5.000 per liter, tahun ini harganya Rp 6.000 per liter, dan 2013 mendatang harganya kita naikkan menjadi Rp 7.000 per liter.

Kualitas kopi dari Lembah Baliem tidak perlu lagi diragukan. Dalam berbagai tes uji citarasa yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri, sudah terbukti “Baliem Blue Coffee”atau disingkat “Bebecoffee”memiliki citarasa yang tinggi. Terakhir pada konfrensi Asosiasi Kopi Spesial Amerika yang diikuti oleh pelaku-pelaku kopi Spesial dari seluruh dunia, kopi dari daerah ini diikutsertakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia karena Koperasi Baliem Arabica adalah salah satu anggota organisasi itu. Berdasarkan data kopi di Kabupaten Yahukimo, Jayawijaya dan Lani Jaya cukup besar, dengan jumlah petani kopi 2007 orang dan luas lahan 1.102 ha serta kemampuan produksi 193,25 ton pertahun.

Potensi produk kopi terbesar terdapat di kabupaten Jayawijaya, yaitu sebesar 138,75 ton pertahun, kemudian Lani Jaya. Pada tahun Rainforest Alliance melakukan audit terhadap Koperasi Baliem Arabika. Hal ini merupakan bagian dari program Aliansi Pembangunan Pertanian Papua (PADA) untuk pengembangan kopi di Lembah Baliem, Papua. Rainforest Alliance memiliki misi untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan menjamin mata pencaharian yang berkesinambungan dengan mengubah praktek-praktek penggunaan lahan, praktek bisnis dan perilaku konsumen. (Sumber: RRI Wamena,10 April 2011,AMARTA data terkait FHKP)

Diposkan oleh Frans Hero Kamsia Purba, MBA di Wednesday, August 29, 2012

Kopi Baliem Arabica Masih Menjadi Komuditas Unggulan

Selasa, 12 Juli 2011 , 04:20:00, CenderawasihPos

WAMENA-Kabupaten Jayawijaya memiliki banyak potensi sumber daya alam (SDA), hanya saja potensi tersebut belum bisa dikelola dengan baik.Salah satu potensi yang sampai saat ini masih menjadi komuditas unggulan adalah Kopi Baliem Arabica, pasalnya Kopi Baliem Arabika memiliki cita rasa yang khas.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang penelitian dari pusat penilitian kopi dan kakao Indonesia di Jember Surip Mawardi kepada Cenderawasih Pos, di Wamena beberapa hari lalu.

Menurut Surip Mawardi, dengan cita rasa yang khas dimiliki Kopi Baliem Arabika, maka kopi tersebut masuk dalam kategori kopi specialty atau kopi yang special.

“Kopi Baliem Arabica punya karakter tersendiri, selain rasa juga kopi ini tahan lama sampai berbulan, hal inilah yang mendorong sehingga kopi Arabica ini masih menjadi komuditas unggulan di wilayah pegunungan tengah Papua khususnya Jayawijaya,”ujarnya.

Apakah selain kopi ada komuditas lainnya yang bisa diandalkan? Surip Mawardi mengungkapkan, belum ada komuditas yang bisa menjadi menyaingi Kopi Arabica.

“Memang di Pegunungan Tengah ini banyak potensi sumber daya alam di sektor pertanian dan perkebunan, seperti sayur-sayuran yang segar, hanya saja komuditas seperti ini tidak bisa dieksport karena tidak tahan lama,”

jelasnya.

Kendati merupakan komuditas unggulan kata Surip, namun untuk mengembangkan potensi tersebut, pihaknya menemukan sejumlah kendala, diantaranya karena faktor sosial masyarakat yang belum berorientasi bisnis.

“Saya melihat petani kopi belum sepenuhnya berorientasi bisnis, karena itu perlu ada pendampingan dari instansi teknis untuk memberdayakan petani dan memberikan pemahaman terhadap potensi kopi Arabica, saya yakin jika kopi Arabica akan tetap menjadi primadona dan pasarnya luar biasa,”

pungkasnya.(lmn/nan)