Kopi Arabika Papua dan Baliem Blue Coffee

Tanaman kopi adalah salah satu komoditas pertanian yang mempunyai prospek pasar yang terus meningkat sehingga beberapa daerah di Indonesia misalnya di Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi telah membudidayakan tanaman kopi menjadi andalan eksport untuk meningkatkan pendapatan asli daerah terutama para petani di pedesaan. Kenyataan ini mendorong daerah lain untuk mengembangkan budidaya tanaman kopi agar dapat meningkatkan pendapatan para petani.

Pengembangan tanaman kopi di Provinsi Papua sudah lama dikenal sejak Pemerintahan Hindia Belanda. Jenis tanaman kopi yang dikembangkan di tanah Papua terutama di daerah pedalaman adalah jenis Coffea arabica, sedangkan jenis Coffea robusta dikembangkan di daerah pesisir pulau Papua. Setelah Papua berintegrasi dengan Indonesia, maka budidaya tanaman kopi menjadi salah satu komoditas andalan untuk meningkatkan pendapatan petani di pedesaan Propinsi Papua.

Kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, dan Lani Jaya adalah kabupaten di daerah pedalaman Provinsi Papua, yang sudah lama mengembangkan tanaman kopi terutama jenis Coffea arabica.

Sebagian wilayah di tiga kabupaten ini berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Taman Nasional Lorentz dan masyarakatnya sudah membudidayakan tanaman kopi sebagai komoditas unggulan untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani di desa.

Jenis tanaman kopi (Coffea arabica) menjadi pilihan untuk pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Lorentz, karena beberapa alasan, antara lain :

– Jenis tanaman ini jika dibudidayakan memerlukan tanaman pelindung (naungan) yang dapat berfungsi mencegah erosi tanah dan meningkatkan kesuburan tanah melalui daun dan ranting yang gugur dan membusuk.

– Tanaman pelindung dapat berfungsi menstabilkan iklim mikro serta menjadi tempat berlindung berbagai jenis burung dan hewan lain sehingga lokasi atau lahan pertanian kopi menjadi kawasan hutan atau habitat hidup hewan dan tumbuhan sebagai dampak dari hasil budidaya tanaman kopi.

– Tanaman pelindung dapat berfungsi sebagai pengatur tata air pada saat musim hujan karena sistim perakarannya menembus lapisan tanah yang dalam sehingga air dapat merembes masuk ke dalam tanah pada saat musim hujan dan tertampung dalam tanah. Pada saat musim kemarau; air itu tetap mengalir karena persediaan air tanah banyak.

– Para petani di kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, dan Lani Jaya telah membudidayakan tanaman kopi dan mendapat manfaat ekonomi dari hasil budidaya tanaman kopi.

– Tanaman kopi masyarakat di kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, dan Lani Jaya merupakan produk pertanian yang ramah lingkungan (green produck) karena tidak menggunakan pupuk an-organik (pupuk buatan pabrik) dan pertisida untuk pemberantasan hama dan penyakit tanaman yang cenderung merusak tanah dan membunuh satwa lain.