Papua Specialty Coffee

Papua (Arabica) Specialty Coffee

Kopi Papua ini merupakan kopi organik dengan kualitas terbaik. Karena tanah Papua yang masih sangat subur kopi yang dihasilkan sangat baik. Aroma kopinya harum, halus dan memiliki after taste yang sangat manis. Beberapa pegiat kopi menyamakan kopi ini dengan biji kopi Jamaica Blue Mountain. Jamaica Blue Mountain Coffee adalah kopi Arabika yang ditanam di daerah Blue Mountain di Jamaica dan merupakan kopi premium. Itulah sebabnya KSU Baliem Arabica menamakan produk Kopi Arabica dari Tanah Papua dengan julukan “Baliem Blue Coffee” (disingkat BBCoffee). Diantara kopi Arabika lainnya, kopi ini mengandung kafein paling sedikit. [http://bisangopi.com/component/content/article/3-jenis-kopi/7-tocabica]

 Wilayah: Pegnungan Tengah, DAtaran Tinggi Papua
Jayawijaya, Tolikara, Puncak Jaya, Lani Jaya, Mamberamo Tengah, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Yalimo, Tolikara, Puncak Papua
SCAI exporter and contact: KSU Baliem Arabica (baliemarabica@yahoo.com, info@papuacoffees.com)
 Production area: Lembah Baliem
 Jenis: Arabica: Linie S – varietas  berasal dari India jenis S-288 dan S-795. Kemudian varietas Typica banyak dikembangkan oleh KSU Baliem Arabica belakangan ini dana akan terus dikembangkan sebagai Kopi Kedua setelah Jamaica Blue Mountain Coffee
 Name and cup profile: Heavy body with low acidity.Chocolate with tobacco notes.
  Proses: Wet dan Dry
 Certification:  Organik dari Control Union (2008-sekarang) , Rainforest Alliance (2008-sekarang) dan CERES (sampai 2008 – 2012)
  Aroma:  Honey like chocolaty caramel fruity
  Body:  Moderate medium acid clean
  Ciri:  Kekentalan tinggi, keasaman rendah, rasa cokelat dengan sentuhan tembakau
  Aftertaste:  Smokey choc caramley balanced
 Crop cycle:  Mei hingga to September

Catatan:

  • Ada kopi robusta di Tanah Papua tetapi belum dikelola secara profesional untuk dipasarkan.
  • Telah terbentuk Asosiasi Kopi Spesialti Papua

 

Potensi Kopi Papua Arabica

Berdasarkan penelitian dan kajian yang dilakukan terhadap potensi dan tata niaga kopi di kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, dan Lani Jaya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Potensi kopi di kabupaten Yahukimo, Jayawijaya dan Lani Jaya cukup besar, dengan jumlah petani kopi 2007 orang dan luas lahan 1.102 ha serta kemampuan produksi 193,25 ton pertahun.

2. Potensi produk kopi terbesar terdapat di kabupaten Jayawijaya, yaitu sebesar 138,75 ton pertahun, kemudian Lani Jaya, yaitu sebesar 28,25 ton pertahun, dan disusul oleh Yahukimo, yaitu 26,25 ton pertahun. Produksi kopi di kabupaten Yahukimo dan Lani Jaya diperkirakan dapat bertambah karena semua distrik tidak didata pada penelitian ini.

3. Berdasarkan kemampuan produksi kopi diatas, maka potensi pendapatan asli daerah di tiga kabupaten yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat adalah sebesar Rp 1.932.500.000 – 2.898.750.000 pertahun, rincian pendapatan perkabupaten sebagai berikut : (1). Yahukimo, yaitu Rp 262.500.000 – 393.750.000, (2). Jayawijaya, yaitu Rp 1.387.500.000 – 2.081.250.000, (3). Lani Jaya, yaitu Rp 282.500.000 – 423.750.000,-

4. Beberapa anggota petani di kabupaten Yahukimo dan Lani Jaya masih melakukan pengupasan kulit biji kopi secara manual (dimasukan kedalam karung dan di injak-injak) sehingga kemampuan produksinya rendah.

5. Hasil pengamatan lapangan di distrik Kurima & Tangma kabupaten Yahukimo, distrik Asolokobal, Hubikossi, Pelebaga, dan Asologaima di kabupaten Jayawijaya, dan distrik Tiom, Pirime, dan Makki kabupaten Lani Jaya diketahui bahwa banyak petani yang belum mengelola kebun kopi dengan baik.

6. Berdasarkan hasil kajian terhadap indikator kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan kopi disekitar kawasan Lorentz, maka disimpulkan bahwa program ini layak untuk dilaksanakan dan memiliki prospek bisnis yang baik dikelola secara profesional.

7. Program pengembangan kopi di kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, dan Lani Jaya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan isu-isu strategis dan rancangan program yang disampaikan dalam kajian ini.