About

Posts by :

Bush Heritage Australia dan Menejemen Proyek Berbasis Komunitas

Setelah pertemuan dan pelajaran dari Presiden Palau terkait inisiatif dan langkah strategis pemerintah dalam melindungi alam sekitar dan belajar dari pengalaman LMMA di kawasan Melanesia (Fiji sampai kepulauan Kay) pada hari kemarin (14 November), maka pada hari ini, 15 November 2014 utusan KSU Baliem Arabica melakukan pertemuan 2 jam dengan para pengelola dan anggota dari Bush Heritage Australia.

Bush Herige Australia ialah sebuah proyek yang dijalankan oleh masyarakat adat di bagian Utara Benua Afrika, yang secara administrasi pemerintahan federal Australia berada di wilayah sekitar Darwin, nama wilayah yang diambil dari sang teoretisi Charles Darwin yang memunculkan gagasan evolusi dan seleksi alam, di mana manusia di dunia yang lemah dan ras yang tidak dapat bertahan akan punah sesuai dengan rumus hukum alam dan pendudukan dan penjajahan ialah akibat alamiah dari proses seleksi alam. Masyarakat Adat di wilayah Darwin saat ini menyatakan “Tidak benar!” kepada sang tokoh evolusioner ini. Mereka telah memenangkan sebuah pertarungan hukum di pengadilan dan memenangkan banyak tanah adat menjadi tanah milik Masyarakat Adat setempat, yang dulunya tidak pernah diakui.

Bush Heritage tidak hanya berusaha menkleim tanah, tetapi mereka juga telah mengambil inisiativ sendiri dan mengeluarkan sebuah peta pengelolaan Tanah Adat mereka yang begitu komprehensiv. Proses pembuatan peta wilayah dimulai beberapa tahun lalu. Disusul 3 tahun proses penyusunan program di antara suku-suku yang ada sehingga rencana tersebut disatukan ke dalam sebuah dokumen yang akhirnya dipresentasikan kepada pemerintah federal.

Rencana yang telah saja, Jhon Kwano baca menunjukkan sebuah program yang begitu luas dan dalam, dan disampaikan dalam bentuk cerita. Cerita dari masyarakat adat dan tua-tua adat ditulis dan dicetak seperti diceritakan langsung dan tercetak. Rencana dimaksud terdiri dari

  1. Peta wilayah adat
  2. peta tanah adat bagi masing-masing klen dan suku
  3. program kerja strategis di wilayah tanah adat mereka
  4. program kerja jangka pendek, menengah dan panjang untuk tanah adat.

Di dalamnya terdapat peta wilayah yang bisa dipakai untuk pembangunan rumah tinggal, tanah untuk pertenian, tanah untuk berburu, tanah untuk membiarkan turis datang, dan tangah di mana selain masyarakat adat setempat tidak diizinkan untuk mendapatkan akses dengan alasan apapun juga. Ini mereka sebut “No-Go Zone”.

Pemerintah setempat, setara dengan provinsi di Indonesia, juga datang dan bersama dengan mereka memberikan kesaksian bahwa apa yang dilakukan masyarakat adat dengan program Bush Heritage ialah sesuatu yang positiv dan patut dicontoh oleh semua Masyarakat Adat di seluruh dunia. Kata mereka,

“Kami pemerintah hanya manusia. Kami tidak bisa berbuat yang terbaik untuk semua orang. Jadi masing-masing kelompok seharusnya datang dengan program mereka, keterangan tentang mereka, apa yang mereka mau dan apa yang mereka tidak mau, disertai alasan-alasan yang disajikan secara jelas, maka pemerintah pasti akan mendukungnya. Sebelumnya masyarakat adat datang dan melakukan demonstrasid an protes dan itu sulit bagi pemerintah untuk bersedia berdialog. Seharusnya masyarakat adat datang dengan gambaran yang jelas apa yang mereka lawan, apa yang mereka tolak, apa yang mereka mau, dan digambarkan secara jelas dan disampaikan langsung. Ini sangat membantu.”

Dari diskusi ini, saya, Jhon Kwano berharap pemerintah provinsi Papua dan masyarakat adat di seluruh Tanah Papua mengambil langkah. Pertama masing-masing kelompok masyarakat adat duduk dan berbicara, berpikir dan berencana, menyangkut tanah leluhur mereka, menyangkut apa yang harus dilakukan di atas tanah mereka, dan menyampaikannya kepada pemerintah kabupaten, kota dan provinsi. Kalau tidak begitu, orang Papua akan berdiri sebagai penonton, dan selalu memprotes semua yang datang dari pemerintah, tanpa memberikan alasan yang jelas, tanpa memberikan solusi yang tepat, tanpa rencana jalan keluar yang tepat.

Pelajaran dari “Locally Managed Marine Area” di Fiji, Filipina, Madagascar, West Papua, Banda Island dan Kay Island

Stadium Kedua Sydney Olympic Park

Stadium Kedua Sydney Olympic Park

Demikian judul atau topik yang dicantumkan dalam jadwal presentasi di Hall 5 Sydney Olimpic Park, Australia pada tanggal 14 November 2014.

Menarik mendengar ada presentasi dari Tanah Papua (West Papua) tentang pemberlakuan “sasi” (larangan melaut dan memancing) sebagaimana umumnya berlaku di masyarakat adat di seluruh dunia., yang kini berlaku saat ini dalam konteks masyarakat modern setelah dihidupkan kembali atas bantuan LMMA dan diberlakukan di Padaido Biak dan di Tablanusu dan sekitargianya (daerah Tanah Merah Jayapura) serta Raja Ampat, Papua Barat selain Kai dan Banda.

Pertama materi dibawakan oleh Ketua LMMA yang bermarkas di Fiji, disusul presentasi dari Filipina dan West Papua. Cliff Marlessy sebagai seorang “pakar” di dunia NGO di Tanah Papua, yang namanya saya Jhon Kwano, sudah dengar sejak masih kuliah di Universitas Cenderawasih tahun 1980-an – 1990-an menunjukkan betapa Pak Marlessy menguasai pembahasan dan menyajikan materi dengan fasih dan lancar dalam bahasa Inggris. Menjadi kebanggaan betapa anak-anak Melanesia dari Fiji sampai Moluccas bekerja sama dalam menanggapi pemanasan global. Yang mengganggu pikiran ialah “belum ada jaringan atau inisiatif serupa untuk digalakkan di darat”, yaitu belum ada “Locally Managed Forest Area – LMFA”, parallel dengan Locally Managed Marine Area.

Sajian dari Filipina menarik karena selain mereka menggalakkan menejemen sumberdaya di laut, mereka juga ke darat. Menurut penyaji materi, “kita tidak makan ikan sendirian, kita perlu sayuran dan makanan lain dan ikan menjadi lauk yang enak disantap kalau dimakan bersama produk lain dari darat”. Ia memberikan contoh penanaman sayur-mayur dan makanan pokok yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan setempat dan untuk dijual di pasar lokal.

Konsep “Locally Managed” di sini menekankan

  • ketahanan pangan dan konsumsi lokal,
  • penerapan praktek-praktek tradisional, dan
  • pemasaran lokal

Yang diproduksi di wilayah “lolcally managed marine area” ialah produk yang dikonsumsi sendiri dan dipasarkan di tempat atau kampung di mana mereka berada. Tidak ada orientasi mengekspor produk dimaksud karena fokus kegiatan ialah ketahanan pangan di tempat yang bersangkutan berdasarkan apa-apa yang dimiliki di wilayah setempat secara penuh. Menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu seperti saat ini memang harus ada upaya-upaya digalakkan dengan orientasi ketahanan pangan sehingga pada saat krisis itu tiba maka masyarakat setempat tidak perlu panik karena tidak ada ini dan itu dan akibatnya menderita dan mati. Dengan menggalakkan ketahanan pangan seperti ini maka semua pihak di seluruh dunia akan bertahan hidup dengan apa saja yang dimiliki masing-masing masyarakat di tempat kelahiran atau keberadaan mereka masing-masing.

Menurut Cliff Marlessy,

Dalam kegiatan ini yang utama ialah keterlibatan masyarakat setempat, karena yang kita upayakan ialah dalam jangka panjang masyarakat setempat bisa mengelola apa yang mereka miliki turun-temurun secara bersama. Kedua dengan kebersamaan ini pihak luar (perusahaan ikan) yang bertujuan memancing ikan atau melakukan kegiatan untuk mensuplai ke pabrik ikan dapat dihindari/ dipagari karena pemberlakukan keputusan bersama atas nama masyarakat adat setempat. Dalam wilayah “sasi” tidak diperkenankan siapapun melakukan kegiatan di laut sehingga memberikan kesempatan kepada ikan untuk berkembang-biak dan alam untuk memulihkan dirinya kembali. Yang penting masyarakat bersatu, baru mereka bersama menghadapi ancaman perusakan yang datang dari pihak luar,

demikian katanya saat ditanya Jhon Kwano seusai presentasi.

Dalam presentasi terlihat jelas ketersediaan ikan di laut meningkat karena ada pemberlakukan “sasi” atau larangan memancing ikan pada kisaran wilayah laut tertentu dalam jangka waktu tertentu. Saya, Jhon Kwano, teringat akan “sasi” yang pernah berlaku dalam tanaman di darat seperti Sasi Buah Merah, Sasi buah pandan, Sasi Ubi Jalar, sasi Jagung, sasi Ketimun dan sasi-sasi menebang hutan atau membabat rumput yang saya tahu pernah berlaku, dan saya pernah saksikan pemberlakuannya, saya pernah lakukan pemberlakuan itu, yang saat ini sudah tidak kedengaran, apalagi kelihatan lagi. Pada saat pemberlakukan “Sasi Tawy” atau Buah Merah misalnya maka tidak seorangpun diizinkan memtik buah merah dengan alasan apapun tanpa seizin Kepala Tawy.

Pemberlakuan Sasi di Filipina lebih komprehensiv, di darat dan di laut sehingga terlihat jelas betapa “hukum adat” dan tradisi masyarakat adat setempat dapat membantu masyarakat hari ini sehingga hidup berkecukupan secara ekonomi maupun pangan tanpa harus mengeluh kalau tidak ada ketersediaan beras di toko atau supermi untuk dibeli dan dimakan setiap harinya.

Jhon Yonathan Kwano sebagai utusan dari KSU Baliem Arabica menyarankan untuk penerapan di Tanah Papua bahwa pelajaran yang ada di Raja Ampat, Tablanusu dan Padaido dibawa ke darat dan dikembangkan di darat dalam rangka meningkatkan peluang ketahanan pangan dan pengelolaan sumberdaya yang tersedia secara bertanggung-jawab oleh manusia yang hidup di wilayah tertentu di darat.

Utusan KSU Baliem Arabica dan Presiden Republik Palau: Thomas Esang Remengesau, Jr.

Jhon Yonathan Kwano

Jhon Yonathan Kwano, Utusan KSU Baliem Arabica

Sebuah peristiwa menarik terjadi hari ini, 13 November 2014, tepatnya di Olympic Park, Sydney, Australia, di mana utusan KSU Baliem Arabica, Kepala Unit Sales dan Marketing KSU Baliem Arabica Jhon Yonathan Kwano bertemu langsung dengan Presiden Republik Palau Thomas Esang Remengesau, Jr. Pertemuan ini terjadi karena apa yang telah dilakukan oleh sang Presiden merupakan satu-satunya langkah di muka Bumi, dari seluruh Presiden di dunia yang berani dan tepat dalam rangka membela hak asasi dari makhluk lain selain manusia. Bertentangan dengan apa yang dilakukan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang membentuk satu Kementerian Khusus di bidang kemaritiman dan kelautan dengan segala isinya, dalam rangka menguras kekayaan alam yang ada di dalam laut untuk kepentingan ekonomi dan makanan ikan bagi para orang kaya di luar negeri, Preisden Palau menyatakan: Menolak dengan Tegas kegiatan di peraidan Palau yang berorientasi ekspor yang semata-mata mengutamakan kekayaan ekonomi dan uang. Presiden Palau mengumumkan seluruh wilayah Zona Ekonomi Eksklusiv (Exclusive Economic Zone – EEZ) sebagai areal terlindungi. Dengan pelarangan tersebut maka seluruh kegiatan di laut di wilayah EEZ sebagai zona terlarang bagi kegiatan perikanan seperti pemancingan dan kegiatan lainnya yang berorientasi ekonomi.

Presiden Palau tidak menutup mata atas kebutuhan masyarakat setempat dan orang asing yang datang ke negaranya. Ia katakan, “Siapa saja kami persilahkan datang dan makan ikan dan hasil laut yang kami sajikan di sini, di Palau, tetapi kami tidak memproduksi ikan untuk diekspor ke luar negeri. Kami tidak kirim produk laut kami ke luar negeri. Yang mau silahkan datang kemari dan makan di sini!” Masih menurutnya lagi,

Dengan cara ini, ikan kami akan melimpah, karena kami melarang penggunaan metode canggih dan bom atau racun dalam memancing ikan. Kebutuhan ikan di Palau juga ditekan sementara harga ikan kami naikkan sehingga persediaan unutuk konsumen di dalam negeri tersedia menurut kebutuhan, dengan harga yang cukup memadai tinggi sehingga pendapatan para nelayan tetap terpenuhi, dan pada saat yang sama ikan tidak dihabiskan hanya gara-gara untuk mencari uang dengan mengorbankan kepentingan kelestarian laut kita.

Ia memulai pidato singkatnya dengan mengatakan,

“Saya ini seorang pelaut, saya seorang nelayan. Ayah saya seorang nelayan, kakek saya seornag nelayan, anak dan cucu saya juga nelayan. Orang Palau tidak dapat dipisahkan dari laut dan hasil laut. Orang Palau tidak boleh dikorbankan karena hasil laut yang dibutuhkan oleh orang asing di luar sana. Siapa saja yang mau ikan, mari datang dan makan di sini, di Palau”

Mendengar pidato ini, tentu saja utusan KSU Baliem Arabica terbayang tentang masalah yang akan segera menimpa di perairan Indonesia, dengan terbentuknya sebuah Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan para menteri yang adalah pedangan ikan yang berorientasi ekspor, konon para menteri yang bersangkutan dari pengusaha kecil adalah pengekspor ikan, yang adalah kekayaan alam Indonesia. Indonesia sedang mendayung perahu NKRI ke arah yang jelas-jelas bertentangan dengan kapal “Palau” atau dalam gersi Melayu kita sebut negara “Pulau” ini. Dari pidato kampanye sampai pidato pengambilan sumpah, Joko Widodo sudah berulang-kali mengatakan betapa laut Inodnesia sedang tertidur dan harus dibangunkan. Arti sebenarnya ialah “Laut Indonesia belum diexplorasi dan belum dikeruk untuk kepentingan asing, oleh karena itu saya ditugaskan untuk mengeruknya dalam rangka melayani kepentingan konsumen di luar negeri sana.”

Secara khusus sang Presiden Palau menyempatkan diri berbicara dengan utusan KSU Baliem Arabica selama sekitar lima menit dan menyatakan,

Saya undang Anda, pemerintah Anda datang ke Palau dan lihat apa yang sudah kami lakukan, dan jangan lupa bawa pelajarang dari tempat Anda untuk diajarkan kepada kami juga. Kami terbuka. Tempat anda tidak jauh dari tempat saya, lebih dekat ke Palau daripada ke Jakarta, bukan?”

Sebagai tanggapan Jhon Kwnao menyatakan akan berusaha menyampaikan pesan ini kepada Gubernur Provinsi Papua dan Gubernur Provinsi Papua Barat, untuk selanjutnya diteruskan kepada Presiden Republik Indonesia, untuk melihat ke Palau, sisi lain dari potensi laut yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan makhluk-makhluk selain manusia, juga, tidak hanya untuk kepentingan ekonomi manusia.

Dari Kantor Kepresidenan Republik Palau menyatakan akan sangat bersedia datang ke Tanah Papua, khususnya Raja Ampat dan pesisir Utara Papua untuk melihat kemungkinan pelajaran dari Palau diterapkan di Papua dan Papau Barat. Menanggapi itu, Jhon Kwano menyatakan akan melobi dua Gubernur di Tanah Papua untuk berkunjung ke Palau sebagai langkah awal dalam mengambil kebijakan strategis menyangkut perairan dan kelautan sekitar pulau New Guinea bagian barat. Semoga pertemuan ini tidak sia-sia, tetapi berlanjut menjadi sebuah langkah awal menuju Perairan dan Laut Papua yang lestari, bersih dan menawan sebagai bagian tak terpisahkan dari Bumi Surgawi.

IUCN World Parks Congress 2014 dan Tekad KSU Baliem Arabica

IUCN World Parks Congress

IUCN World Parks Congress

IUCN World Parks Congress 2014 merupakan sebuah “landmark” forum global dari taman yang terlindungi di dunia. Kongres ini akan berbagi pengetahuan dan inovasi, menetapkan agenda untuk konservasi tempat-tempat yang terlindungi selama dekade-dekade mendatang. Membangun dari tema “Parks, people, planet: inspiring solutions”, acara ini akan menyajikan, membahas dan menciptakan pendekatan-pendekatan original untuk konservasi dan pembangunan, membantu menangani gap dalam agenda konservasi dan pembangunan. Demikian dinyatakan WorldParksCongress.org

Dengan gambaran dan tema seperti ini, tentu saja yang tertarik ialah semua manusia di dunia, para penghuni planet Bumi karena ada hubungan langsung antara perlindungan/ konservasi alam dengan pembangunan yang berujung kepada nasib manusia dan nasib semua makhluk di planet Bumi.

Keperdulian terhadap lingkungan lama dimulai sejak lama, tetapi menjadi lebih serius setelah ada penemuan bahwa pemanasan Bumi menjadi ancaman bagi kehidupan di planet Bumi karena telah terjadi penipisan laposn ozone yang berfungsi sebagai lapisan yang membantu mengimbangi panas matahari langsung ke Bumi.

Bumi Cenderawasih atau pulau New Guinea dikatakan memiliki hutan tropis terbanyak nomor dua di dunia. KSU Baliem Arabica sebagai sebuah kelompok usaha milik penduduk Asli Papua di pegunungan Tengah Papua yang menjadi perintis dalam mengekspor produk asli Papua ke pasar internasional merasa bertanggungjawab secara moral menjadi perintis dalam berbagai hal, terutama demi kelangsungan hidup di tanah Papua.

Tanggungjawab lingkungan KSU Baliem Arabica dibentuk sejak 2012 dan selama ini KSU Baliem Arabica aktiv dalam menyebarkan informasi lewat brosur dan lokakarya di kalangan para petani kopi tentang pentingnya lingkungan alam sekitar, tumbuhan dan hewan exotic yang invasive dan bagaimana cara mengendalikan spesies yang dianggap membahayakan spesies asli Tanah Papua.

Sebagai kelanjutan dari Tanggungjawab Lingkungan, KSU Baliem Arabica yang tanaman kopinya sebagian masuk ke Taman Nasional Lorentz yang diproteksi secara hukum membawa diri ke acara-cara lokal maupun internasional dalam rangka memahami bagaimana mengimbangi kerusakan lingkungan sementara kegiatan usaha tetap dijalankan demi pembangunan ekonomi Orang Asli Papua. (OAP).

Kami sebagai badan usaha milik OAP hendak menunjukkan jalan yang benar bagi semua Badan Usaha yang bergerak di Bumi Cenderawasih baik di bagian barat maupun timur tanah Papua bahwa keperdulian terhadap Lingkungan alam haruslah menjadi prioritas daripada kepentingan ekonomi dan politik.

Kami berharap kehadiran KSU Baliem Arabica dengan biaya yang besar ini tidak sia-sia.

WorldParksCongress.org Australia 2014 dihadiri Utusan KSU Baliem Arabica

Selamat datang peserta World Parks Congress

Selamat datang peserta World Parks Congress

Sebagai bagian dari tanggungjawab lingkungan dari KSU Baliem Arabica, setelah meluncurkan proyek pembersihan Eceng Gondok sebagai tumbuhan exotic yang invasive di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, maka KSU Baliem Arabica Unit Tanggungjawab Lingkungan saat ini mengutus Kepala Unit Global Sales & Marketing Koperasi untuk menghadiri Kongres Taman Sedunia (World Parks Congress) 2014 di Sydney, Australia.

KSU Baliem Arabica telah menyampaikan lamaran kepada panitia untuk menghadirinya dan telah membayar biaya administrasi kongres, sekaligus membayar biaya hotel untuk 9 malam.

Pendaftaran yang disampaikan Koperasi dari Tanah Papua, tepatnya di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah Papua ini telah diterima panitia. Ditindaklanjuti dengan persetujuan atas lamaran visa bisnis yang diajukan oleh Koperasi kepada Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Acara akan berlangsung tanggal 12 – 20 November 2014, bertempat di ICMS Australasia, GPO Box 3270, Sydney NSW 2001.

Acara ini diselenggarakan oleh International Union for Conservation of Nature dengan tema Parks, People, Planet: Inspiring Solutions.

Selain utusan dari Koperasi Baliem Arabica, acara ini juga akan dihadiri utusan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Ucapan “Terima kasih!” dan Salam Sukses Panitia dan Peserta BaliemCup.com

Baliem Cup

Baliem Cup sponsor Baliem Blue Coffee

Ucapan “Terima kasih” kami Koperasi Serba Usaha  Baliem Arabica sampaikan kepada Panitia Pelaksana dan Peserta Baliem Cup.

Ssebagai produsen Baliem Blue Coffee yang telah diekspor ke pasar mancanegara, KSU Baliem Arabica memiliki Unit Tanggunjawab Lingkungan, yaitu tanggungjawab kepada lingkungan sosial dan tanggungjawab terhadap lingkungan alam di mana Koperasi menjalankan usahanya. Unit Tanggungjawab Lingkungan KSU Baliem Arabica telah melakukan berbagai kegiatan seperti pembersihan Eceng Gondok di Danau Sentani sejak tahun 2013. Sebagai tanggungjawab lingkungan sosial, pada tahun yang sama telah mensponsori pendirian Yayasan 8 Plus 1 untuk menjalankan proyek pengumpulan sumbangan bagi kelanjutan pembangunan yang telah diletakkan oleh para generasi pendahulu kita. Kini Balim Cup diselenggarakan di kota Studi Yogyakarta, sebagai kota di luar pulau New Guinea yang menampung orang Papua dalam jumlah terbanyak.

KSU Baliem Arabica menyampaikan terimakasih kepada pengurus dan panitia yang telah berhasil menyelenggarakan kejuaraan Bola Volley ini, menyusul penyelenggaraan Kejuaraan Sepak Bola se-Tanah Papua bernama Koteka Cup yang telah berbangsung beberapa bulan lalu.

KSU Baliem Arabica punya ambisi dan mimpi, walaupun kemampuan sangat terbatas karena kami hanya berjalan bermodalkan semangat dan tekad bulat untuk membangun tanah dan manusia Papua, untuk mengembangkan Kejuaraan bernama BaliemCup.com ini. Kami impikan bukan hanya untuk Bola Volley, tetapi mencakup sepak bola dan bidang olahraga lain yang digemari orang Papua. Selain bidang olahraga yang lebih luas, kami juga berambisi untuk sebuah turnamen yang diikuti keseluruhan orang Papua di pulau New Guinea: mulai dari Sorong sampai Samarai.

Olahraga bagi generasi muda Papua patut kita jadikan sebagai bagian dari kehidupan orang Papua, yang pada akhirnya menjadi bagian dari budaya dan darah-daging orang Papua.

Hal ini menjadi ambisi yang penting dan patut didukung oleh berbagai pihak yang mau mewujudkan kebangkitan orang Papua dan kesejahtaraan masyarakat Papua. Prestasi generasi muda Papua belakangan ini telah dengan nyata-nyata membuktikan kepada kita sekalian bahwa mereka sanggup berbicara di kancah olahraga di berbagai bidang dan tingkatan.

Dengan penyelenggaraan turnamen seperti BaliemCup.com maka akan membantu indistru olahraga di tanah Papua menyaring bibit-bibit unggul di bidang olahraga dari Tanah Papua untuk kemudian dipupuk dan dikembangkan sebelum disumbangkan bagi keharuman nama Papua.

Dengan pengembangan olahraga akan lahir orang Papua yang sportif, yang bermental “gentlemen“, yang sanggup dan menjadi terbiasa menerima kekalahan ataupun merayakan kemenangan, bukan menjadikan kekalahan sebagai pukulan memalukan atau kemenangan sebagai puncak kejayaan.

Sportifitas perlu ditanamkan, dipupuk dan ditumbuh-kembangkan secara luas dan terencana, agar ia kemudian merambat ke berbagai ranah kehidupan modern orang Papua: sosial, politik, ekonomi, budaya. Sportifitas dalam bersikap, bertutur-kata dan bertindak menunjukan tingkat peradaban yang matang dan mapan.

Sportifitas lebih tepat dan jitu dikembangkan lewat berbagai kegiatan olahraga, dengan melibatkan orang Papua di berbagai lapisan dan tingkatan dalam ber-olah-raga sementara berlatih dan mengembangkan sportifitasnya.

Dengan berakhirnya Baliem Cup I, 2014 tanpa rintangan dan hambatan apapun tetah menunjukkan kepada semua pihak bahwa sportifitas itu telah ada di antara generasi muda Papua dan potensial untuk ditumbuh-kembangkan.

“Image” dan “pandangan” orang non-Papua tentang pemain Papua yang “emosional” dan “tidak sportif” harus dihapuskan dari ingatan dan persepsi para penonton, komentator dan stake-holders olahraga di manapun berada. Kini waktunya orang Papua hadir di arena pertandingan dan bertanding dan berlomba secara sehat dan sportif, dan merayakan kemenangan dan kekalahan dengan ucapan syukur dan saling berbagi.

Sebagai sponsor tunggal Baliem Cup I, 2014, kami nyatakan turnamen ini telah berlangsung dengan sukses dan meriah. Selanjutnya kami nyatakan “Siap!” untuk mendukung turnamen lainnya dalam waktu-waktu mendatang.

Selain itu kami mengundang berbagai pihak yang berhubungan dengan manusia dan tanah Papua, pemerintah, bandan usaha, organisasi pemerintah ataupun swasta, terutama Bank Papua dan bank-bank lainnya di Tanah Papua, agar tidak menutup mata dan masa bodoh dengan inisiatif ini, agar mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang bertujuan menanam dan menumbuh-kembangkan sportifitas dan kejujuran dalam jiwa manusia Papua. [Amin!]

KSU Baliem Arabica Membiaya Proyek Pemusnahan “Invasive Plants” di Danau Sentani

Eceng Gondo

Pencabutan Eceng Gondok di Danau Sentani, Jayapura, Papua

KSU Baliem Arabica lewat Unit Tanggungjawab Lingkungan sejak tahun 2013 telah melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan

  • mengidentifikasi dan mengajarkan kepada Masyarakat Papua tentang tumbuhan exotic yang menjadi tumbuhan invasive di tanah Papua;
  • memelopori operasi pencabutan/ pemusnahan tanahan exotic yang bersifat invasive

Kegiatan penyuluhan dilakukan lewat produksi brosur, leaflet dan pamphlet yang semuanya berisi informasi tentang tumbuhan exotic atau tumbuhan asing dan tidak dikenal yang ada di Tanah Papua dan sekaligus tumbuhan dimaksud bersifat invasive, yaitu tumbuhan yang selanjutnya membunuh tumbuhan asli setempat lalu menguasai lahan asli.

Salah satu tumbuhan exotic yang invasive ialah “Eceng Gondok” di Danau Sentani.

Seperti dapat dilihat dari berbagai gambar yang kami telah lampirkan di Facebook.com, bahwa kegiatan pemusnahan di sejumlah bagian di Danau Sentani telah kami pandang berhasil. Tinggal selanjutnya masyarakat Adat setempat kami tinggalkan untuk terus melakukan pengawasan dan pembersihan.

Sejak tahun 2013 KSU Baliem Arabica telah membiayai kegiatan-kegiatan pencabutan dan pemusnahan Eceng Gondok.

Proyek ini juga didukung sepenuhnya oleh Wakli Bupati Kabupaten Jayapura, Bapak Robert Djonsoe.

Kami berharap selanjutnya teladan yang ditinggalkan KSU Baliem Arabica ini terus dipelihara oleh masyarakat penghuni Danau Sentani agar senantiasa melakukan pmbersihan terhadap Eceng Gondok sehingga tumbuhan exotic sekaligus invasive dimaksud kemudian tidak menutupi keseluruhan wajah/ permukaan dari Danau Sentani yang dalam sejarah bangsa Papua telah memberi makan dan menjamin kehidupan bagi semua orang Papua.

Hampir semua pembesar tanah Papua telah pernah menikmati ikan gabus dan ikan sembilan dan ikan lainnya dari Danau ini, dan telah memberikan gizi dan menjamin kesehatan kita semua. Oleh karena itu, dampak buruk dari kehadiran Eceng Gondok haruslah kita akhiri.

Caranya mudah saja, tinggal Anda mendukung Proyek Pencabutan Eceng Gondok dan pemeliharaan Danau Sentani.

Proyek ini dijalankan secara berkesinambungan oleh Unit Tanggungjawab Lingkungan KSU Baliem Arabica berkantor Pusat di Kalkote, Pinggir Danau Sentani, Jayapura.

Barangsiapa, semua orang Papua, dimanapun Anda berada, merasa bertanggungjawab, perduli ataupun hendak terlibat dalam proyek-proyek pembersihan atau mau memberikan dukungan doa, dana, atau apa saja, silahkan hubungi kami di info@baliemarabica.com atau gudang@baliemarabica.com

Tentu saja pelajaran dari pembersihan tumbuhan exotic yang invasive ini akan ditindak-lanjuti dengan kegiatan yang sama di tempat dan danau yang lain di seluruh Tanah Papua. Itu akan terjadi kalau Anda, semua orang Papua mendukung proyek ini.

 

Penawaran Khusus Panen Perdana 2014 Berakhir

Penawaran Khusus Panen Perdana Musim Panen 2014 Berakhir pada tanggal 17 Augstus 2014

Dengan mengucapkan ucapan terimakasih kepada para pelanggan setia khususnya di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bali dan di Tanah Papua sendiri, bahwa masa penawaran khusus untuk panen perdana Juli 2014 telah berakhir per tanggal 17 Agustus 2014.

Pada kesempatan ini kami dari KSU Baliem Arabica mengucapkan terimakasih atas kepada agen distribusi kami di Manokwari dan Yogyakarta atas kerjasama yang telah ada sehingga penjualan perdana untuk Paket Khusus Tahap I tahun ini telah berlalu dengan hasil yang memuaskan.

Kami secara khusus mengirimkan pesan “TERIMAKASIH” kepada pembeli kami di kota-kota Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Jayapura dan Bali yang selama ini membeli produk Green beans dari kami, baik langsung ke Gudang Produksi KSU Baliem Arabica di Jayapura, maupun lewat Distributor Tunggal di luar Tanah Papua di Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta.

Ketua Koperasi Baliem Arabica, Selion Karoba menyampaikan secara khusus,

Terimakasih kepada pelanggan kami, terimakasih atas kepercayaan, terimakasih karena Anda tidak salah memilih Kopi tanah Papua, dari petaninya sendiri, dari penanam, pemetik, penjualnya sendiri. Kami tidak beli kopi orang, kami tidak jual kopi orang. Kami tanam sendiri, kami produksi sendiri, kami jual sendiri.

Selanjnya dari Distrubutor Tunggal di Yogyakarta lewat kepala PAPUAmart.com, Roy Karoba menyampaikan kepercayaan pelanggan di seluruh Indonesia telah mulai tertanan. Katanya,

kepercayaan itu mulai tertanam. Tetapi kami akan lihat apakah dia bertumbuh dan bahkan berbuah atau tidak berdasarkan perkembangan waktu-waktu ke depan. Kami sudah punya beberapa pelanggan, terutama Jakarta dan Surabaya, tetapi selama ini masih dilakukan penjualan dalam jumlah kecil. Penawaran khusus yang disampaikan kantor pusat perlu kita lakukan secara berkala dan berturut-turut untuk merangsang pembelian.

Roy Karoba juga menyatakan sekarang ini bukan Kopi Wamena saja digemari, tetapi kopi tanah Papua lainnya seperti Kopi Moanemani, Kopi Dogiyai, Kopi Deiyai, Kopi Arfak, Kopi Goroka, Kopi Hagen, Kopi Pegunungan Bintang juga digembari masyaraekat pecinta Kopi di Indonesia. Menurutnya,

Kami malahan sudah punya pesanan untuk membeli kopi dari Papua New Guinea, seperti Sigri Single Origin, Goroka Single Origin dan Hangen Single Origin. Ada wilayah di PNG seperti Goroka dan Hagen yang lebih dekat ke Pegunungan Bintang (Papua) sehingga pembelian kami perlu lakukan dari Provinsi Papua, bukan dari PNG lagi, karena pelabuhan expor PNG di Port Moresby, di ujung tertimur pulau New Guinea, jadi jauh sekali. Kalau dibawa ke Jayapura lewat Vanimo atau lewat Pegunungan Bintang akan lebih dekat dan lebih murah.

Diharapkan musim panen ini, pada tahapan penjualan kedua kalau ada juga akan ditawarkan kopi-kopi dari Tanah Papua lainnya seperti Kopi Monamenami, Kopi Goroka, Kopi Deiyai, Kopi Hagen, dan lainnya.

Pasar Kopi Wamena akan segera dibuka di Kota Wamena

Passar Kopi Wamena

Passar Kopi Wamena

Dari akun Facebook tanggal 4 Agustus 2014 Ketua Koperasi Baliem Arabica, Selion Karoba menyatakan gebrakan yang dilakukan Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica tahun ini dengan “Membuka Pasar Kopi di Wamena” sehingga seluruh petani kopi datang ke pasar dan menjual hasil perkebunan Kopinya dengan harga yang telah distandarisasi sesuai harga kopi yang berlaku secara nasional maupun internasional.

Standarisasi harga kopi ini bermaksud membantu para petani kopi sehingga mereka tidak secara terus-menerus ditipu oleh para pembeli yang selama ini langsung datang ke tempat para petani atau ke kebun para petani dan langsung menentukan harga kopinya semau mereka, yang dampaknya ialah ialah ketimpangan harga dan secara serius mempengaruhi kestabilan harga Kopi Wamena selama ini.

Dengan pembukaan Pasar Kopi Wamena ini diharapkan semua pembeli yang datang ke Pasar Kopi akan menjual dan membeli dengan harga yang sama.

Berikut harga yang telah ditetapkan KSU Baaliem Arabica Pusat Wamena:

  1. Harga Kopi dalam Bentuk Gabah Asalan / Standar Rp. 7.000;/ Liter kadar 60-75%.
  2. Harga Kopi dalam bentuk Biji Kering standar, kadar 12.50-13.00% Rp. 24.500

Dengan pematokan ini, menurut Karoba para petani Kopi akan mendapatkan keuntungan dan keuntungan yang diperoleh para petani dapat dikendalikan dan dengan demikian akan diketahui jauh sebelum penjualan kopi,

Selama ini para petani kopi punya kopi tetapi mereka belum bisa pastikan berapa uang yagn akan mereka dapat sebelum terjadi negosiasi dan proses jual-belinya. Karena selama ini para pembeli kopi datang ke para petani dengan menyodorkan harga yang tidak sama, ada yang terlalu mahal, maksudnya pembeli datang dengan harga mahal sekali sehingga para petani membanjiri pembeli dimaksud. Ada juga datang dengan harga sangat murah. Jadi para petani tidak tahu secara pasti pendapatan mereka. Ada yang pemeblinya sama, tetapi datang hari ini dengan harga mahal, datang besoknya dengan harga di bawah harga standar, jadi petani kopi disebut dipermainkan oleh para tengkulak.

Itu sebabnya kami lakukan terobosan ini dalam rangka menyelamatkan pengembangan kopi di pegunungan tengah Papua dan sekaligus pertama-tama menyelamatkan semangat menanam dan memelihara kopi yang sudah kami tanamkan dan kobarkan di antara para Masyarakat Adat di seluruh pegunungan Tengah Papua.

Menutup komentarnya Ketua Koperasi mengharapkan supaya para pembeli, baik itu pembeli dari pemerintah, swasta atau lembaga LSM lokal ataupun internasional, semuanya supaya menghargai inisiatif dan gebrakan yang dilakukan KSU Baliem Arabica sebagai pembeli kopi dan investor lokal yang selama ini telah menghabiskan dana, waktu dan tenaga yang banyak untuk kepentingan pengembangan kopi di Tanah Papua secara umuim dan khususnya di Pegunungan Tengah Papua.

Penawaran Khusus Panen Perdana Musim Panen 2014

Papua Arabica Coffee

Revo Karoba menangkut Kopi Arabica Wamena Panen Perdana Juli 2014 di Gudang Kopi

Penawaran Khusus hanya ditujukan kepada para Pelanggan KSU Baliem Arabica dari hasil Panen Perdana Musim Panen 2014

Sebagaimana dirilis dalam PAPUACoffees.com dan PAPUAmart.com bahwa untuk bulan Juli 2014 diberikan penawaran khusus kepada para pelanggan yang selama ini membeli kopi dari KSU Baliem Arabica baik FOB Jayapura maupuan FOB Yogyakarta (Sleman) secara online ataupun Offline bahwa KSU Baliem Arabica mulai tanggal 18 Juli 2014 memberikan penawaran khusus kepada para pelanggannya untuk membeli Kopi produk KSU Baliem Arabica.

Adapun maksimum pembelian yang ditawarkan pada saat ini ialah 500kg dengan harga khusus yaitu Rp.67.000,- (Terbilang: Enampuluh Tujuh Ribu Rupiah) per kilogram-nya.

Silahkan rujuk ke kedua link di atas (PAPUACoffees.com dan PAPUAmart.com) untuk membaca lebih lanjut tentang profil kopi dan penawaran secara lengkap.

Untuk pembeli baru atau pembeli non-reguler (yang pernah membeli kopi kami tetapi tidak secara rutin), kami akan berikan penawaran kepada Anda untuk babak berikutnya, kemunginan besar pada awal Agustus 2014.

Kenapa kami lakukan penawaran khusus seperti ini?

Alasan pertama karena produk Kopi Papua sangat terbatas, sehingga kami perlu jual hanya kepada para pembeli yang serius dan pembeli yang bersedia membeli dalam jumlah besar.

Alasan kedua karena proses produksi Green Beans saja sudah tidak sulit mengingat medan yang begitu parah dan transportasi yang 99% dilakukan dengan pesawat terbang sehingga kami merasa begitu bijak kalau setiap tahapan panen langsung dijual demi menjaga kesegaran Kopi.

Alasan ketiga karena kami butuhkan perputaran uang langsung dengan anggota koperasi, atau para petani Kopi. Oleh karena itu dengan membeli Kopi lewat tahapan seperti ini maka akan membantu para petani untuk memperoleh pendapatan secara langsung.

Kapan penawaran ini berakhir?

Penawaran akan berakhir pada bulan Agustus, tetapi tanggal akan ditentukan kemudian, pada saat penawaran tahap kedua kami luncurkan.

Info selanjutnya?

Silahkan hubungi

  1. ke Situs kami lewat BaliemArabica.com
  2. Email: info@coffea.asia atau kopiwamena@gmail.com
  3. SMS/ Telepon: 081238301001 atau 085656235388