Sejarah Kopi Wamena

Master Kopi Wamena:Ubertus Marian

Pelopor petani kopi Wamena Kopi Wamena, dari biji hingga kemasan

Ubertus Marian, kulitnya sudah keriput, rambutnya sebagian sudah warna perak. Tapi, otot-ototnya masih terlihat kencang. Dia seorang petani kopi. Sejak memulai usaha pada 1980-an, kopi sudah membawanya melanglang buana.

Namanya Pusat Koperasi Peran Masyarakat Kurulu Alua-Marian. Pabrik tempat Ubertus bekerja ini terletak di Distrik Kurulu, setengah jam perjalanan dari kota Wamena. Lahannya menghampar sekitar 50 hektar di daerah yang sejuk dan rawan hujan.

Pabrik ini dibangun Ubertus atas bantuan dari pemerintah. Pemerintah memasok koperasi dengan mesin-mesin penggilingan. Sementara, untuk bibit, Ubertus kredit ke bank. Bibit kopi yang ditanam di sini merupakan jenis Arabika.

Saya kalau minum kopi ini, tidak bisa tidur,” Menurutnya, kopi Wamena punya kualitas unggul, baik dari citarasa maupun kadar keasamannya. Ia berani menjamin bahwa kopi hasil pabriknya tidak kalah dengan kopi manapun di seluruh Indonesia.

Ubertus sudah kenyang pengalaman. Pabrik yang dijalankannya sudah beroperasi dengan konsisten. Dalam setahun, ia bisa 5 sampai 10 kali panen, dengan kuota kopi rata-rata sepuluh ton per tahun. Namun, untuk distribusi ia baru berani di seputar Wamena saja. “Terlalu besar biayanya,”.

Bertani kopi ini bukan berarti tanpa kendala. Ubertus mengaku, bahwa selain iklim yang tak menentu, ia juga merasa berat dengan harga bahan bakar mesin yang tinggi. Dan, ini belum termasuk biaya perawatan.

Pun begitu, Ubertus pantang menyerah. Ia mencintai kopi dan berkeras menjalankan usahanya sebagai petani kopi. Kegigihan ini lah yang lantas membuahkan hasil. Di usia tuanya, Ubertus sudah malang-melintang di berbagai tempat di Indonesia. Ia bertemu banyak petani kopi di daerah lain, bertukar pikiran, dan berserikat. Dengan bangga ia berkata, “Saya bisa hidup dan jalan-jalan dari kopi.”

Oleh : Dahlan Iskan
Sumber : detik
Posted on [16:24:50 13/12/2011] by admin di http://kpbn.co.id

 

Catatan dari KSU Baliem Arabica:

Bapak Ubertus Marian, Anton Kurisi, Maximus Lani, Alpius Elopere dengan Ketua Filipus Huby dibantu oleh pemerintah Provinsi Era Barnabas Suebu dengan fasilitas serba-canggih dan serba-lengkap, tetapi kegiatannya berhenti total. Sebagian dari mereka telah bergabung ke KSU Arabica, meninggalkan KOPERMAS buatan pemerintah provinsi Papua waktu itu.

Kami berdoa kiranya pengalaman ini tidka terulang  kembali di masa mendatang.

Jayawijaya: Freeport Akan Beli Kopi dari Kurulu

Jayawijaya: yang Tercecer dari Penutupan Turkamp Gubernur di Kurulu Jayawijaya (bagian-2/habis)

Selain meninjau stasiun pangan darurat di Holima, dalam kunjungannya ke Distrik Kurulu Kabupaten Jayawijaya itu Gubernur juga meresmikan pabrik kopi di waga-waga, disana Gubenurb disambut antusias oleh warga.

Laporan RAHMATIA

Pilkada Gubenur Papua memang telah berlalu sejak lebih dari setahun lalu, tapi yang terjadi di Waga- Waga suasana itu sempat terasa pada kamis 30/8 lalu, ketika Gubernur Barnabas Suebu, SH mengunjungi kampung itu untuk meresmikan pabrik kopi milik masyarakat.Aroma politik itu menguak ketika Albert Logo salah seorang anggota Partai PDI-P denngan berapi-api menyampaikan dukungannya kepada Gubenur Suebu untuk memimpin Papua. ”Saya ini adalah tim sukses Gubernur, kami bangga karena bapak suebu terpilih menjadi gubernur Papua,” katanya semangat. Ia juga menyampaikan rasa bangganya kepada Gubernur Suebu yang sudah mau berkunjung ke waga-waga untuk bertemu dengan masyarakat.

Sementara itu, Gubernur Suebu tidak kalah bangganya dengan masyarakat waga waga karena mampu mendirikan pabrik kopi. ”ini adalah conotoh yang baik untuk memperbaiki ekonomi masyarakat di kampung,” katanya. Karena itu, pihaknya juga akan berupaya mencarikan solusi agar pemasaran kopi dari waga waga itu dapat terpecahkan termasuk bagaimana agar harga kopi miik rakyat itu bisa tinggi.”Harga kopi harus naik karena tujuan dari perkebunan rjyat adalah untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat,” kata Gubernur Suebu. Karena itu, pangsa pasar harus diperluas dan ongkos angkut harus diturunkan. Ia bahkan menyebutkan kalau dirinya sudah bicara dengan PT Freeport Indonesia di Timika bahwasanya perusahaan asing itu akan membeli kopi dari waga-waga dalam jumlah besar untuk konsumsi karyawannya. ”saya sudah bicara, Freeeport juga sudah setuju untuk beli kopi dari wamena,” katanya. Untuk itu, rakyat harus menyediakan kopi dengan kualitas terbaik.

Pada bagian lain sambutannya, Gubernur Suebu juga mengatakan bahwa pembangunan di kampung menganut tiga prinsip yakni keberpihakan, pemberdayaan masyarakat dan kemandrian masyarakat. Usai Gubernur menyampaikan sambutannya, salah seorang warga Benyamin Debi maju kedepan hendak menyampaikan aspirasi (semacam pernyataan sikap) kepada Gubeenur meminta agar mempercepat pembangunan kampung. Kami sudah lama merindukan pembangunan , karena itu kami juga mau maju,” katanya lantang.Usai menerima aspirasi itu, Gubernur menuju pabrik dan meresmikan pabrik kopi, tetapi sebelumnya ia mencanangkan bulan buku ke-11 bagi ibu dan anak di daerah tersebut.***
(CEPOS Selasa 4 September 2007)