Kopi Organik

Kopi organik pada umumnya diartikan sebagai kopi yang TIDAK MENGGUNAKAN pupuk kimian dan pestisida mulai dari pembibitan, penanaman, peleliharaan, sampai pemanenan, proses produksi sampai penjualan. “Tanpa menggunakan pupuk organik atau pestisida” saja sudah dapat disebut organik.

Catatan dari RumahKopi.com mengartikan:

kopi organik mengacu pada biji kopi yang ditanam tanpa menggunakan pupuk kimia atau pestisida. Oleh karena banyak petani kopi memang menggunakan bahan kimia dalam jumlah besar, banyak orang mulai mendukung kopi organik.

Dalam bisnis kopi saat ini dipandang tidak cukup suatu kelompok atau individu produsen kopi mengkleim dirinya sebagai produsen kopi organik. Di samping untuk menghindari penipuan, konsumen juga patu diperi jaminan yang pasti bahwa label “organik” benar-benar telah dibuktikan secara kredibel.  Untuk itu maka TermWiki.com mencatat:

Kopi yang telah disertifikasi oleh lembaga pihak ketiga sebagai telah ditanam tanpa menggunakan pestisida, herbisida atau bahan kimia yang serupa.

Di Indonesia belum ada lembaga sertifikasi produk, entah itu untuk produk ramah lingkungan alam maupun ramah lingkungan sosial dan budaya.

Kopi atau produk apapun disebut organik karena proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan sampai produksi tidak menggunakan bahan-bahan kimia sebagai pupuk, pembasmi hama, mapun bahan pewarna, dan pengawet produk.

Mengapa Organik?

Produk kopi organik disebut Kopi ramah lingkungan atau perkebunan kopi yang berkelanjutan (sustainable).

Tanpa kita sadari sebelumnya, penggunaan pupuk kimia dan pestisida untuk tanaman, dan bahan pengawet dan pewarna pada produk dalam jangka panjang merusak lingkungan. Penggunaan pupuk merusak atau lebih tepat membunuh tanah dan segala isinya. Demikian juga penggunaan pestisida tidak hanya membunuh hama tetapi sekaligus membunuh semua makhluk yang hidup secara alamiah di sekitar tanaman.

Penggunaan pewarna dan pengawet pada produk makanan dan minuman pada prinsipnya sama dengan peracunan yang menyebabkan pembunuhan dan kematian secara perlahan. Secara moral para produsen makanan, seperti kopi secara langsung bertanggungjawab kepada Tuhan Pencipta kita atas peracunan yang diakibatkan karena menggunakan pupuk, pestisida dan bahan pengawet serta pewarna pada makanan dan minuman.

Produksi kopi non-organik itu sebenarnya merusak lingkungan, baik tanah, orang yang tinggal di sekitar perkebunan kopi itu, juga hewan ternak yang ada di sana. Bukan hanya hari ini, tapi juga bahaya dalam jangka panjang.

Demikian dicatat oleh KopiKeliling.com.