Unit Lingkunan

Pelajaran dari “Locally Managed Marine Area” di Fiji, Filipina, Madagascar, West Papua, Banda Island dan Kay Island

Stadium Kedua Sydney Olympic Park

Stadium Kedua Sydney Olympic Park

Demikian judul atau topik yang dicantumkan dalam jadwal presentasi di Hall 5 Sydney Olimpic Park, Australia pada tanggal 14 November 2014.

Menarik mendengar ada presentasi dari Tanah Papua (West Papua) tentang pemberlakuan “sasi” (larangan melaut dan memancing) sebagaimana umumnya berlaku di masyarakat adat di seluruh dunia., yang kini berlaku saat ini dalam konteks masyarakat modern setelah dihidupkan kembali atas bantuan LMMA dan diberlakukan di Padaido Biak dan di Tablanusu dan sekitargianya (daerah Tanah Merah Jayapura) serta Raja Ampat, Papua Barat selain Kai dan Banda.

Pertama materi dibawakan oleh Ketua LMMA yang bermarkas di Fiji, disusul presentasi dari Filipina dan West Papua. Cliff Marlessy sebagai seorang “pakar” di dunia NGO di Tanah Papua, yang namanya saya Jhon Kwano, sudah dengar sejak masih kuliah di Universitas Cenderawasih tahun 1980-an – 1990-an menunjukkan betapa Pak Marlessy menguasai pembahasan dan menyajikan materi dengan fasih dan lancar dalam bahasa Inggris. Menjadi kebanggaan betapa anak-anak Melanesia dari Fiji sampai Moluccas bekerja sama dalam menanggapi pemanasan global. Yang mengganggu pikiran ialah “belum ada jaringan atau inisiatif serupa untuk digalakkan di darat”, yaitu belum ada “Locally Managed Forest Area – LMFA”, parallel dengan Locally Managed Marine Area.

Sajian dari Filipina menarik karena selain mereka menggalakkan menejemen sumberdaya di laut, mereka juga ke darat. Menurut penyaji materi, “kita tidak makan ikan sendirian, kita perlu sayuran dan makanan lain dan ikan menjadi lauk yang enak disantap kalau dimakan bersama produk lain dari darat”. Ia memberikan contoh penanaman sayur-mayur dan makanan pokok yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan setempat dan untuk dijual di pasar lokal.

Konsep “Locally Managed” di sini menekankan

  • ketahanan pangan dan konsumsi lokal,
  • penerapan praktek-praktek tradisional, dan
  • pemasaran lokal

Yang diproduksi di wilayah “lolcally managed marine area” ialah produk yang dikonsumsi sendiri dan dipasarkan di tempat atau kampung di mana mereka berada. Tidak ada orientasi mengekspor produk dimaksud karena fokus kegiatan ialah ketahanan pangan di tempat yang bersangkutan berdasarkan apa-apa yang dimiliki di wilayah setempat secara penuh. Menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu seperti saat ini memang harus ada upaya-upaya digalakkan dengan orientasi ketahanan pangan sehingga pada saat krisis itu tiba maka masyarakat setempat tidak perlu panik karena tidak ada ini dan itu dan akibatnya menderita dan mati. Dengan menggalakkan ketahanan pangan seperti ini maka semua pihak di seluruh dunia akan bertahan hidup dengan apa saja yang dimiliki masing-masing masyarakat di tempat kelahiran atau keberadaan mereka masing-masing.

Menurut Cliff Marlessy,

Dalam kegiatan ini yang utama ialah keterlibatan masyarakat setempat, karena yang kita upayakan ialah dalam jangka panjang masyarakat setempat bisa mengelola apa yang mereka miliki turun-temurun secara bersama. Kedua dengan kebersamaan ini pihak luar (perusahaan ikan) yang bertujuan memancing ikan atau melakukan kegiatan untuk mensuplai ke pabrik ikan dapat dihindari/ dipagari karena pemberlakukan keputusan bersama atas nama masyarakat adat setempat. Dalam wilayah “sasi” tidak diperkenankan siapapun melakukan kegiatan di laut sehingga memberikan kesempatan kepada ikan untuk berkembang-biak dan alam untuk memulihkan dirinya kembali. Yang penting masyarakat bersatu, baru mereka bersama menghadapi ancaman perusakan yang datang dari pihak luar,

demikian katanya saat ditanya Jhon Kwano seusai presentasi.

Dalam presentasi terlihat jelas ketersediaan ikan di laut meningkat karena ada pemberlakukan “sasi” atau larangan memancing ikan pada kisaran wilayah laut tertentu dalam jangka waktu tertentu. Saya, Jhon Kwano, teringat akan “sasi” yang pernah berlaku dalam tanaman di darat seperti Sasi Buah Merah, Sasi buah pandan, Sasi Ubi Jalar, sasi Jagung, sasi Ketimun dan sasi-sasi menebang hutan atau membabat rumput yang saya tahu pernah berlaku, dan saya pernah saksikan pemberlakuannya, saya pernah lakukan pemberlakuan itu, yang saat ini sudah tidak kedengaran, apalagi kelihatan lagi. Pada saat pemberlakukan “Sasi Tawy” atau Buah Merah misalnya maka tidak seorangpun diizinkan memtik buah merah dengan alasan apapun tanpa seizin Kepala Tawy.

Pemberlakuan Sasi di Filipina lebih komprehensiv, di darat dan di laut sehingga terlihat jelas betapa “hukum adat” dan tradisi masyarakat adat setempat dapat membantu masyarakat hari ini sehingga hidup berkecukupan secara ekonomi maupun pangan tanpa harus mengeluh kalau tidak ada ketersediaan beras di toko atau supermi untuk dibeli dan dimakan setiap harinya.

Jhon Yonathan Kwano sebagai utusan dari KSU Baliem Arabica menyarankan untuk penerapan di Tanah Papua bahwa pelajaran yang ada di Raja Ampat, Tablanusu dan Padaido dibawa ke darat dan dikembangkan di darat dalam rangka meningkatkan peluang ketahanan pangan dan pengelolaan sumberdaya yang tersedia secara bertanggung-jawab oleh manusia yang hidup di wilayah tertentu di darat.

IUCN World Parks Congress 2014 dan Tekad KSU Baliem Arabica

IUCN World Parks Congress

IUCN World Parks Congress

IUCN World Parks Congress 2014 merupakan sebuah “landmark” forum global dari taman yang terlindungi di dunia. Kongres ini akan berbagi pengetahuan dan inovasi, menetapkan agenda untuk konservasi tempat-tempat yang terlindungi selama dekade-dekade mendatang. Membangun dari tema “Parks, people, planet: inspiring solutions”, acara ini akan menyajikan, membahas dan menciptakan pendekatan-pendekatan original untuk konservasi dan pembangunan, membantu menangani gap dalam agenda konservasi dan pembangunan. Demikian dinyatakan WorldParksCongress.org

Dengan gambaran dan tema seperti ini, tentu saja yang tertarik ialah semua manusia di dunia, para penghuni planet Bumi karena ada hubungan langsung antara perlindungan/ konservasi alam dengan pembangunan yang berujung kepada nasib manusia dan nasib semua makhluk di planet Bumi.

Keperdulian terhadap lingkungan lama dimulai sejak lama, tetapi menjadi lebih serius setelah ada penemuan bahwa pemanasan Bumi menjadi ancaman bagi kehidupan di planet Bumi karena telah terjadi penipisan laposn ozone yang berfungsi sebagai lapisan yang membantu mengimbangi panas matahari langsung ke Bumi.

Bumi Cenderawasih atau pulau New Guinea dikatakan memiliki hutan tropis terbanyak nomor dua di dunia. KSU Baliem Arabica sebagai sebuah kelompok usaha milik penduduk Asli Papua di pegunungan Tengah Papua yang menjadi perintis dalam mengekspor produk asli Papua ke pasar internasional merasa bertanggungjawab secara moral menjadi perintis dalam berbagai hal, terutama demi kelangsungan hidup di tanah Papua.

Tanggungjawab lingkungan KSU Baliem Arabica dibentuk sejak 2012 dan selama ini KSU Baliem Arabica aktiv dalam menyebarkan informasi lewat brosur dan lokakarya di kalangan para petani kopi tentang pentingnya lingkungan alam sekitar, tumbuhan dan hewan exotic yang invasive dan bagaimana cara mengendalikan spesies yang dianggap membahayakan spesies asli Tanah Papua.

Sebagai kelanjutan dari Tanggungjawab Lingkungan, KSU Baliem Arabica yang tanaman kopinya sebagian masuk ke Taman Nasional Lorentz yang diproteksi secara hukum membawa diri ke acara-cara lokal maupun internasional dalam rangka memahami bagaimana mengimbangi kerusakan lingkungan sementara kegiatan usaha tetap dijalankan demi pembangunan ekonomi Orang Asli Papua. (OAP).

Kami sebagai badan usaha milik OAP hendak menunjukkan jalan yang benar bagi semua Badan Usaha yang bergerak di Bumi Cenderawasih baik di bagian barat maupun timur tanah Papua bahwa keperdulian terhadap Lingkungan alam haruslah menjadi prioritas daripada kepentingan ekonomi dan politik.

Kami berharap kehadiran KSU Baliem Arabica dengan biaya yang besar ini tidak sia-sia.

WorldParksCongress.org Australia 2014 dihadiri Utusan KSU Baliem Arabica

Selamat datang peserta World Parks Congress

Selamat datang peserta World Parks Congress

Sebagai bagian dari tanggungjawab lingkungan dari KSU Baliem Arabica, setelah meluncurkan proyek pembersihan Eceng Gondok sebagai tumbuhan exotic yang invasive di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, maka KSU Baliem Arabica Unit Tanggungjawab Lingkungan saat ini mengutus Kepala Unit Global Sales & Marketing Koperasi untuk menghadiri Kongres Taman Sedunia (World Parks Congress) 2014 di Sydney, Australia.

KSU Baliem Arabica telah menyampaikan lamaran kepada panitia untuk menghadirinya dan telah membayar biaya administrasi kongres, sekaligus membayar biaya hotel untuk 9 malam.

Pendaftaran yang disampaikan Koperasi dari Tanah Papua, tepatnya di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah Papua ini telah diterima panitia. Ditindaklanjuti dengan persetujuan atas lamaran visa bisnis yang diajukan oleh Koperasi kepada Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Acara akan berlangsung tanggal 12 – 20 November 2014, bertempat di ICMS Australasia, GPO Box 3270, Sydney NSW 2001.

Acara ini diselenggarakan oleh International Union for Conservation of Nature dengan tema Parks, People, Planet: Inspiring Solutions.

Selain utusan dari Koperasi Baliem Arabica, acara ini juga akan dihadiri utusan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Ucapan “Terima kasih!” dan Salam Sukses Panitia dan Peserta BaliemCup.com

Baliem Cup

Baliem Cup sponsor Baliem Blue Coffee

Ucapan “Terima kasih” kami Koperasi Serba Usaha  Baliem Arabica sampaikan kepada Panitia Pelaksana dan Peserta Baliem Cup.

Ssebagai produsen Baliem Blue Coffee yang telah diekspor ke pasar mancanegara, KSU Baliem Arabica memiliki Unit Tanggunjawab Lingkungan, yaitu tanggungjawab kepada lingkungan sosial dan tanggungjawab terhadap lingkungan alam di mana Koperasi menjalankan usahanya. Unit Tanggungjawab Lingkungan KSU Baliem Arabica telah melakukan berbagai kegiatan seperti pembersihan Eceng Gondok di Danau Sentani sejak tahun 2013. Sebagai tanggungjawab lingkungan sosial, pada tahun yang sama telah mensponsori pendirian Yayasan 8 Plus 1 untuk menjalankan proyek pengumpulan sumbangan bagi kelanjutan pembangunan yang telah diletakkan oleh para generasi pendahulu kita. Kini Balim Cup diselenggarakan di kota Studi Yogyakarta, sebagai kota di luar pulau New Guinea yang menampung orang Papua dalam jumlah terbanyak.

KSU Baliem Arabica menyampaikan terimakasih kepada pengurus dan panitia yang telah berhasil menyelenggarakan kejuaraan Bola Volley ini, menyusul penyelenggaraan Kejuaraan Sepak Bola se-Tanah Papua bernama Koteka Cup yang telah berbangsung beberapa bulan lalu.

KSU Baliem Arabica punya ambisi dan mimpi, walaupun kemampuan sangat terbatas karena kami hanya berjalan bermodalkan semangat dan tekad bulat untuk membangun tanah dan manusia Papua, untuk mengembangkan Kejuaraan bernama BaliemCup.com ini. Kami impikan bukan hanya untuk Bola Volley, tetapi mencakup sepak bola dan bidang olahraga lain yang digemari orang Papua. Selain bidang olahraga yang lebih luas, kami juga berambisi untuk sebuah turnamen yang diikuti keseluruhan orang Papua di pulau New Guinea: mulai dari Sorong sampai Samarai.

Olahraga bagi generasi muda Papua patut kita jadikan sebagai bagian dari kehidupan orang Papua, yang pada akhirnya menjadi bagian dari budaya dan darah-daging orang Papua.

Hal ini menjadi ambisi yang penting dan patut didukung oleh berbagai pihak yang mau mewujudkan kebangkitan orang Papua dan kesejahtaraan masyarakat Papua. Prestasi generasi muda Papua belakangan ini telah dengan nyata-nyata membuktikan kepada kita sekalian bahwa mereka sanggup berbicara di kancah olahraga di berbagai bidang dan tingkatan.

Dengan penyelenggaraan turnamen seperti BaliemCup.com maka akan membantu indistru olahraga di tanah Papua menyaring bibit-bibit unggul di bidang olahraga dari Tanah Papua untuk kemudian dipupuk dan dikembangkan sebelum disumbangkan bagi keharuman nama Papua.

Dengan pengembangan olahraga akan lahir orang Papua yang sportif, yang bermental “gentlemen“, yang sanggup dan menjadi terbiasa menerima kekalahan ataupun merayakan kemenangan, bukan menjadikan kekalahan sebagai pukulan memalukan atau kemenangan sebagai puncak kejayaan.

Sportifitas perlu ditanamkan, dipupuk dan ditumbuh-kembangkan secara luas dan terencana, agar ia kemudian merambat ke berbagai ranah kehidupan modern orang Papua: sosial, politik, ekonomi, budaya. Sportifitas dalam bersikap, bertutur-kata dan bertindak menunjukan tingkat peradaban yang matang dan mapan.

Sportifitas lebih tepat dan jitu dikembangkan lewat berbagai kegiatan olahraga, dengan melibatkan orang Papua di berbagai lapisan dan tingkatan dalam ber-olah-raga sementara berlatih dan mengembangkan sportifitasnya.

Dengan berakhirnya Baliem Cup I, 2014 tanpa rintangan dan hambatan apapun tetah menunjukkan kepada semua pihak bahwa sportifitas itu telah ada di antara generasi muda Papua dan potensial untuk ditumbuh-kembangkan.

“Image” dan “pandangan” orang non-Papua tentang pemain Papua yang “emosional” dan “tidak sportif” harus dihapuskan dari ingatan dan persepsi para penonton, komentator dan stake-holders olahraga di manapun berada. Kini waktunya orang Papua hadir di arena pertandingan dan bertanding dan berlomba secara sehat dan sportif, dan merayakan kemenangan dan kekalahan dengan ucapan syukur dan saling berbagi.

Sebagai sponsor tunggal Baliem Cup I, 2014, kami nyatakan turnamen ini telah berlangsung dengan sukses dan meriah. Selanjutnya kami nyatakan “Siap!” untuk mendukung turnamen lainnya dalam waktu-waktu mendatang.

Selain itu kami mengundang berbagai pihak yang berhubungan dengan manusia dan tanah Papua, pemerintah, bandan usaha, organisasi pemerintah ataupun swasta, terutama Bank Papua dan bank-bank lainnya di Tanah Papua, agar tidak menutup mata dan masa bodoh dengan inisiatif ini, agar mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang bertujuan menanam dan menumbuh-kembangkan sportifitas dan kejujuran dalam jiwa manusia Papua. [Amin!]

KSU Baliem Arabica Membiaya Proyek Pemusnahan “Invasive Plants” di Danau Sentani

Eceng Gondo

Pencabutan Eceng Gondok di Danau Sentani, Jayapura, Papua

KSU Baliem Arabica lewat Unit Tanggungjawab Lingkungan sejak tahun 2013 telah melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan

  • mengidentifikasi dan mengajarkan kepada Masyarakat Papua tentang tumbuhan exotic yang menjadi tumbuhan invasive di tanah Papua;
  • memelopori operasi pencabutan/ pemusnahan tanahan exotic yang bersifat invasive

Kegiatan penyuluhan dilakukan lewat produksi brosur, leaflet dan pamphlet yang semuanya berisi informasi tentang tumbuhan exotic atau tumbuhan asing dan tidak dikenal yang ada di Tanah Papua dan sekaligus tumbuhan dimaksud bersifat invasive, yaitu tumbuhan yang selanjutnya membunuh tumbuhan asli setempat lalu menguasai lahan asli.

Salah satu tumbuhan exotic yang invasive ialah “Eceng Gondok” di Danau Sentani.

Seperti dapat dilihat dari berbagai gambar yang kami telah lampirkan di Facebook.com, bahwa kegiatan pemusnahan di sejumlah bagian di Danau Sentani telah kami pandang berhasil. Tinggal selanjutnya masyarakat Adat setempat kami tinggalkan untuk terus melakukan pengawasan dan pembersihan.

Sejak tahun 2013 KSU Baliem Arabica telah membiayai kegiatan-kegiatan pencabutan dan pemusnahan Eceng Gondok.

Proyek ini juga didukung sepenuhnya oleh Wakli Bupati Kabupaten Jayapura, Bapak Robert Djonsoe.

Kami berharap selanjutnya teladan yang ditinggalkan KSU Baliem Arabica ini terus dipelihara oleh masyarakat penghuni Danau Sentani agar senantiasa melakukan pmbersihan terhadap Eceng Gondok sehingga tumbuhan exotic sekaligus invasive dimaksud kemudian tidak menutupi keseluruhan wajah/ permukaan dari Danau Sentani yang dalam sejarah bangsa Papua telah memberi makan dan menjamin kehidupan bagi semua orang Papua.

Hampir semua pembesar tanah Papua telah pernah menikmati ikan gabus dan ikan sembilan dan ikan lainnya dari Danau ini, dan telah memberikan gizi dan menjamin kesehatan kita semua. Oleh karena itu, dampak buruk dari kehadiran Eceng Gondok haruslah kita akhiri.

Caranya mudah saja, tinggal Anda mendukung Proyek Pencabutan Eceng Gondok dan pemeliharaan Danau Sentani.

Proyek ini dijalankan secara berkesinambungan oleh Unit Tanggungjawab Lingkungan KSU Baliem Arabica berkantor Pusat di Kalkote, Pinggir Danau Sentani, Jayapura.

Barangsiapa, semua orang Papua, dimanapun Anda berada, merasa bertanggungjawab, perduli ataupun hendak terlibat dalam proyek-proyek pembersihan atau mau memberikan dukungan doa, dana, atau apa saja, silahkan hubungi kami di info@baliemarabica.com atau gudang@baliemarabica.com

Tentu saja pelajaran dari pembersihan tumbuhan exotic yang invasive ini akan ditindak-lanjuti dengan kegiatan yang sama di tempat dan danau yang lain di seluruh Tanah Papua. Itu akan terjadi kalau Anda, semua orang Papua mendukung proyek ini.